SEMARANG, beritajateng.tv – Alliance Française (AF) Semarang menggelar Festival Sinema Prancis (FSP) edisi ke-25 pada 17 – 26 November 2023. Kegiatan ini berlangsung dalam format hybrid, yakni luring melalui Klik Film dan daring bertempat di Kantor AF Semarang, Jalan Dr. Wahidin Nomor 54, Kaliwiru, Kecamatan Candisari, Kota Semarang.
Sebelumnya, FSP sendiri merupakan gagasan Institut Français Indonesia (IFI) untuk membawa sinema Prancis ke berbagai kota di Indonesia, salah satunya ke Kota Semarang. Tahun ini, FSP 2023 mengusung tema ‘Palme d’Or’ yang menyoroti keragaman dan kreativitas sinema Prancis.
Penanggungjawab Komunikasi dan Budaya AF Semarang sekaligus panitia, Tri Wiji Lestari mengungkapkan, tema ‘Palme d’Or’ terinspirasi dari salah satu penghargaan perfilman paling bergengsi di dunia, Festival Film Cannes. Oleh karena itu, festival ini akan menampilkan film-film dari seleksi Festival Cannes.
Festival Sinema Prancis 2023 hadirkan 5 film peraih penghargaan paling bergengsi di Prancis
Adapun AF Semarang mengadirkan 5 film Prancis yang bisa masyarakat Semarang nikmati, yakni “Dilili in Paris”, “The Crossing”, “Everyone Loves Jeanne”, “Wilderness Therapy”, dan “The Bears’ Famous Invasion of Sicily”. Dari 5 film tersebut, 3 di antaranya film anak-anak atau animasi.
“Sebetulnya kita liat niche market AF Semarang sendiri. Karena niche market lebih ke anak SMA dan mahasiswa. Jadi kita pilih film yang bisa ditonton semua usia,” katanya kepada beritajateng.tv, Kamis, 23 November 2023.
Joy sapaan akrabnya menyebut, salah satu film Prancis yang menarik untuk ditonton adalah film berjudul “Pétaouchnok” atau dalam bahasa Inggris berjudul “Wilderness Therapy”.
Film garapan Edouard Deluc pada tahun 2022 itu ia anggap menarik lantaran membahas isu mental health yang saat ini tengah menjadi perbincangan.
BACA JUGA: Wara-Wiri di Festival Internasional, Begini Potensi Film Pendek Karya Filmmaker Kota Semarang
Sinema lahir dari tanah Prancis
Pelaksanaan FSP sendiri ialah dalam rangka memperingati Bulan Film Prancis yang jatuh di bulan November. Joy menjelaskan, Prancis sangat dekat dengan perkembangan dunia perfilman.
Sebut saja Lumière Bersaudara, yang terdiri dari Louis Jean dan Auguste Marie Louis Nicholas. Keduanya adalah perintis penyutradaraan dan pembuatan film.
“Lumière Bersaudara itu dari Prancis, salah satu pencipta film. Apalagi Lumière sendiri artinya cahaya, dari situ bisa tercipta film,” jelas Joy.
Ia pun berharap, dengan gelaran Festival Sinema Prancis 2023 di Semarang ini dapat menjadi ajang pertemuan dan pertukaran budaya sinematik antara Prancis dan Indonesia.
“Harapannya tentu supaya khalayak luas lebih kenal sama Prancis, budayanya, film-filmnya. Prancis itu nggak cuma macaroon, baguette, Dior, Chanel, tapi ada sisi budaya dari Prancis itu sendiri,” tandas Joy. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





