Hukum & Kriminal

Genap 40 Hari Kepergian Gamma, Keluarga Anggap Rekonstruksi Tak Berjalan Fair

×

Genap 40 Hari Kepergian Gamma, Keluarga Anggap Rekonstruksi Tak Berjalan Fair

Sebarkan artikel ini
Gamma dibunuh
Kerabat Gamma, Nursalam, saat menghadiri Aksi Kamisan di depan Polda Jawa Tengah, Kamis, 2 Januari 2025. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Minggu, 24 November dini hari menjadi cerita kelam tidak hanya bagi keluarga Gamma Rizkynata Oktafandy, tapi juga masyarakat Indonesia.

Gamma, seorang siswa SMKN 4 Semarang, meregang nyawa di tangan seorang anggota polisi bernama Aipda Robig Zaenudin. Hari ini, tepat 40 hari Gamma meninggalkan keluarga, kerabat, dan sahabat untuk selamanya. Kepergian Gamma yang mendadak benar-benar memberikan duka bagi orang sekitarnya. Terutama sang nenek.

Nenek Gamma bahkan sempat mengalami trauma. Ia merasa ketakutan berlebih setiap kali mendengar suara kendaraan melintas depan rumahnya.

“Awal dua minggu pertama nenek masih trauma, terutama kalau ada orang tidak dikenal lewat depan rumah, ia pasti nelepon-nelepon. Kalau sekarang sih udah agak mendingan daripada kemarin,” ungkap kerabat Gamma, Nur Salam usai menghadiri Aksi Kamisan di depan Polda Jawa Tengah, Kamis, 2 Januari 2025.

BACA JUGA: Peringati 40 Hari Kematian Gamma, Aksi Kamisan Semarang Tuntut Irwan Anwar & Listyo Sigit Dipecat

Nursalam mengungkapkan, korban  adalah cucu kesayangan sang nenek. Mereka tinggal bersama sejak almarhum masih kecil. Setelah ibu korban meninggal dunia, nenek menjadi pengganti peran ibu, menyiapkan segala kebutuhan Gamma sehari-hari.

Karena itu, nenek pula yang menjadi salah satu orang yang merasa paling kehilangan atas kepergian siswa SMKN 4 Semarang tersebut.

“Nenek ini pengganti ibu kan. Nenek biasanya menyibukkan diri menyiapkan segala sesuatu untuk Gamma, sekarang kan tidak lagi,” sambung Nursalam.

Meski begitu, kondisi nenek korban kini kian membaik. Ia tak lagi memiliki trauma seperti awal peristiwa ini terjadi. Ia juga tak lagi mencari-cari keberadaan almarhum.

Namun seperti anggota keluarga lainnya, nenek tak terima dengan narasi negatif yang beredar tentang cucunya. Ia percaya almarhum bukanlah anggota gangster, seperti yang selama ini polisi tuduhkan.

“Nenek cuma berharap supaya nama baik Gamma pulih,” katanya.

Rekonstruksi kasus Gamma dinilai tidak fair

Terkait perkembangan kasus tersebut, Nursalam mengaku kecewa atas jalannya rekonstruksi pada Senin, 30 Desember 2024 lalu. Sebab, keluarga awalnya diberitahu jika rekonstruksi hanya berupa reka ulang adegan penembakan.

Namun, rekonstruksi ternyata berawal dengan pertemuan beberapa anak, narasi batal tawuran karena senjata tajam, baru kemudian adegan penembakan oleh Aipda Robig. Ia merasa, rekonstruksi berjalan tidak fair.

“Tidak fairnya karena tidak ada rekonstruksi untuk saudara Robig, dari ketika menembak ia kemana, terus dari mana, dan korban itu ketika ke rumah sakit siapa yang mengantar,” ucapnya.

Kini, setelah menggelar pengajian memperingati 40 hari kepergian Gamma, keluarga kembali bersiap menyiapkan bukti dan saksi baru untuk menghadapi sidang perdana nanti.

“Kita tinggal nunggu untuk pidananya, nanti seperti apa jalannya, putusannya seperti apa. Kami ingin yang semaksimal mungkin, dia Pasal 338 seharusnya (hukuman) Pasal 338 maksimal,” tandasnya. (*)

Editor: Ricky Fitriyanto

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp