Lebih jauh, NHS melontarkan kritik tajam terhadap posisi ideologis PPP sebagai partai Islam. Dalam hematnya, PPP justru menjauh dari substansi kepentingan umat Islam yang menjadi basis kelahirannya.
“Ini partai Islam, tapi menjauh dari kepentingan umat Islam. Islam itu kan luas, banyak aspek. Tapi setidaknya ada dua hal penting yang bisa kita lihat,” ujarnya.
Pertama, tutur NHS, PPP dinilai tidak lagi konsisten memperjuangkan figur-figur yang merepresentasikan Islam dalam kontestasi politik.
“Dalam setiap pemilu dan pilkada, partai ini sering kali tidak memilih atau mengusung orang yang merepresentasikan Islam, orang Islam dalam tanda kutip, padahal partai ini terfasilitasi oleh Islam karena asasnya Islam,” katanya.
BACA JUGA: Soliditas DPW PPP Jateng Dapat Apresiasi Gus Yasin di Tengah Masalah Internal DPP
Kedua, secara praksis atau praktiknya, PPP tidak lagi memiliki perbedaan mencolok daripada partai lain. “Pada saat yang bersamaan, partai ini juga tidak mencerminkan keislaman itu dalam perilaku organisasinya. Kita lihat partai ini sama saja dengan partai lain, partai generik, tidak ada bedanya dengan partai yang tidak Islam,” tegas NHS.
Kondisi tersebut, menurutnya, makin parah oleh persoalan etik dan hukum yang menjerat elite partai. “Ada yang kena korupsi juga. Bahkan ketua umumnya dalam beberapa waktu lalu terkena OTT KPK,” ujarnya.
Dalam konteks Jawa Tengah, NHS menilai konflik internal yang berujung pada saling lapor ke kepolisian menunjukkan hilangnya etika organisasi.
“Yang ketiga, ini yang paling tampak, mereka tidak saling menjaga diri, tidak saling menahan diri terhadap persoalan-persoalan internal,” katanya.
Hilangnya Faktor Pemersatu, PPP Jawa Tengah Kehilangan Penengahnya
Dalam kesempatan itu, NHS menyebut salah satu penyebab utama rapuhnya PPP saat ini adalah hilangnya apa yang ia sebut sebagai faktor integral atau figur pemersatu internal partai.
“Dulu, partai ini punya faktor integral. Di Jawa Tengah ada Kiai Thoifur yang menjadi penengah, mediator dari sekian banyak simpul kepentingan. Di level nasional ada Mbah Maimoen,” jelasnya.




