SEMARANG, beritajateng.tv – Walikota Semarang, Agustina Wilujeng, memimpin rakor Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk membahas kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam menjelang akhir tahun 2025.
Dengan curah hujan yang prediksinya terus meningkat, Agustina mengajak semua pihak menyiapkan langkah mitigasi secara menyeluruh.
Ia menegaskan bahwa setiap perangkat daerah harus beroperasi dengan asumsi kemungkinan terburuk. Pihaknya juga menyiapkan peta rawan bencana dan banjir di Kota Semarang.
Menurutnya, hanya dengan kesiapan maksimal, kota Semarang dapat meminimalkan dampak bencana yang bisa muncul sewaktu-waktu.
“Kita harus siap menghadapi keadaan terburuk. Jika itu sampai terjadi, kita sudah memiliki langkah penanganan yang jelas,” ujar Agustina.
Prediksi cuaca dari BMKG menjadi salah satu perhatian utama. Mayoritas bencana yang muncul di Semarang setiap akhir tahun berkaitan langsung dengan intensitas hujan yang tinggi.
BACA JUGA: Rencana Sekolah 6 Hari di Jateng Picu Tolakan Besar, Warganet Geruduk Medsos Ahmad Luthfi
Karena itu, Agustina meminta semua OPD terus memantau perkembangan cuaca secara berkala agar mampu bergerak cepat ketika kondisi memburuk.
“Tugas utama kita adalah mengikuti prediksi curah hujan hingga Desember, agar langkah antisipasi dapat berjalan tepat waktu,” katanya.
Dalam rapat tersebut, Walikota juga memberikan instruksi khusus kepada Dinas PU, Perkim, dan BPBD. Ia meminta ketiganya menyusun peta rinci wilayah rawan banjir Kota Semarang berdasarkan pengalaman bencana tahun sebelumnya.
Peta tersebut harus memuat tingkat kerentanan hingga ke skala kecamatan, kelurahan, bahkan RW, sehingga pemerintah memiliki acuan jelas dalam menyiapkan skenario penanganan.
Upaya mitigasi ini bukan hanya untuk kesiapsiagaan jangka pendek, tetapi juga menjadi dasar evaluasi pembangunan infrastruktur kota.
Agustina memahami keluhan masyarakat mengenai penanganan banjir yang dianggap belum tuntas. Karena itu, ia ingin rencana mitigasi bencana kali ini memberi pengaruh langsung terhadap arah perbaikan infrastruktur.
“Masyarakat terus bertanya kenapa banjir belum selesai padahal anggaran kota cukup besar. Maka mitigasi kali ini harus berdampak pada penggambaran infrastruktur yang lebih tepat sasaran,” tegasnya.





