Selain kenaikan harga, masalah lain yang muncul adalah kelangkaan barang. Firza menyebut sejumlah pabrik mulai menghentikan produksi karena kesulitan bahan baku.
“Sekarang bukan cuma mahal, tapi barang juga mulai langka. Pabrik sudah mulai close order karena bahan baku biji plastik sulit,” jelasnya.
Ia menduga kondisi ini berkaitan dengan terganggunya pasokan bahan baku impor akibat konflik global yang memengaruhi distribusi minyak mentah sebagai bahan dasar petrokimia.
Firza berharap pemerintah dapat segera mencari solusi, terutama terkait stabilitas bahan baku plastik, agar pelaku usaha tidak semakin tertekan.
“Kalau harga naik tapi barang masih ada, mungkin masih bisa diatasi. Tapi ini barang juga mulai sulit, itu yang bikin kami semakin pusing,” pungkasnya.
BACA JUGA: Harga Plastik Melonjak, Ini Alternatif Kantong Plastik yang Ekonomis dan Ramah Lingkungan
Salah satu pelaku UMKM, Ipah (32), penjual ayam geprek, mengaku merasakan langsung dampak kenaikan tersebut. Ia menyebut harga kemasan styrofoam melonjak tajam dalam waktu singkat.
“Dulu per slop Rp25.000, sekarang jadi Rp38.000. Naiknya banyak banget,” ujarnya.
Meski biaya operasional meningkat, Ipah mengaku belum berani menaikkan harga jual secara signifikan. “Paling naik Rp1.000 saja. Takut kalau naik banyak, pembeli berkurang,” katanya.
Di sisi distributor, kondisi ini juga memicu dilema. Firza mengaku harus menambah modal hingga dua kali lipat untuk menjaga stok barang.
“Biasanya modal Rp10 juta, sekarang bisa sampai Rp20 juta karena harga naik hampir 100 persen,” ungkapnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





