SEMARANG, beritajateng.tv – Kementerian Pertanian (Kementan) mengusulkan penambahan porsi telur dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyerap surplus produksi nasional.
Pemerintah mengambil langkah tersebut sebagai respons terhadap merosotnya harga telur di tingkat peternak yang kini berada jauh di bawah harga acuan pemerintah.
Mengutip Detik Finance, harga telur di tingkat produsen saat ini turun hingga Rp22.500 per kilogram. Angka itu berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) Badan Pangan Nasional yang dipatok sebesar Rp26.500 per kilogram.
Padahal, stok telur nasional saat ini mengalami surplus sekitar 13 persen. Kondisi tersebut membuat pemerintah mulai mencari strategi untuk menjaga stabilitas harga sekaligus membantu peternak.
BACA JUGA: Kementan Sebut Kasus PMK Muncul Sebelum Jadwal Vaksinasi Tiba
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan sejumlah lembaga terkait untuk menyesuaikan komposisi menu MBG.
“Kita tentu mendorong agar program makan bergizi gratis juga bisa meningkatkan menu telur per minggunya. Juga kita meminta agar harga beli telur ini juga mengikuti harga yang Peraturan Bapanas tetapkan,” ujar Agung Suganda.
Distribusi Telur ke Wilayah Defisit
Selain mendorong peningkatan konsumsi telur melalui program MBG, Kementan juga menyiapkan strategi distribusi dari daerah surplus menuju wilayah yang masih kekurangan pasokan.
Pemerintah menargetkan distribusi telur dari Pulau Jawa ke wilayah seperti Papua dan Maluku yang produksinya masih rendah.
“Kita masih punya Pulau Papua yang masih di bawah 0,4% produksinya, Maluku juga sama. Oleh karena itu salah satu upaya kita untuk stabilisasi harga ini adalah bagaimana memfasilitasi distribusi dari daerah produsen ke daerah yang masih defisit atau daerah surplus ke daerah defisit,” jelas Agung Suganda.
Peternak Soroti Peran Tengkulak
Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Herry Dermawan, menilai anjloknya harga telur di tingkat peternak dipengaruhi permainan harga oleh pihak perantara atau middleman.
Menurutnya, selisih harga antara tingkat kandang dan harga pasar sangat tidak wajar sehingga merugikan peternak.
“Jadi harga ini, harga yang sekarang ini bukan harga asli. Ada middleman. Bisa dari peternak berat butuh duit dijual semurahnya. Jadi memang harga telur, juga ayam itu sangat sensitif terhadap isu,” ujar Herry Dermawan.
BACA JUGA: Antisipasi Penyebaran PMK, Kementan Gelontorkan 50 Ribu Dosis Vaksin untuk 7 Provinsi
Herry juga meminta Satgas Pangan turun tangan untuk mengawasi distribusi dan rantai perdagangan telur di pasaran.
“Kita juga minta bantuan Satgas Pangan supaya nggak mempermainkan harga. Ini harga nggak wajar. Kalian tau tadi harga berapa dibilang? Rp21.000, kalian beli telur berapa? Rp29.000-Rp30.000 per kg, siapa yang menikmati Rp8.000 itu? itu yang saya bilang, harga sekarang ini bukan harga asli,” imbuhnya. (*)





