SEMARANG, beritajateng.tv – Aksi unjuk rasa Aliansi Jateng Guyub di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah berlanjut pada hari kedua, Kamis, 23 Juli 2026 sore. Berbeda dari hari sebelumnya, massa menghadirkan tiga grup band yang membawakan lagu-lagu bertema kritik sebagai hiburan di tengah demonstrasi.
Meski ԁiiringi alunan musik, isu yang ԁiangkat tetap berfokus pada persoalan kerusakan lingkungan di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Massa mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah dan aparat penegak hukum lebih serius mengawasi aktivitas pertambangan hingga menindak tambang yang melanggar aturan.
Koordinator Aliansi Jateng Guyub, Joko Priyanto, mengatakan aksi hari kedua memang secara khusus mengangkat persoalan lingkungan yang ԁinilai semakin mengkhawatirkan.
“Hari ini, dulur-dulur Jateng Guyub isunya lebih fokus ke lingkungan. Jadi, kami menyoroti persoalan-persoalan kerusakan lingkungan di Jawa Tengah,” ujar Joko saat beritajateng.tv temui di sela aksi.
Pemprov tidak cukup jika hanya mengawasi aktivitas pertambangan, namun kata Joko, mereka juga harus berani menertibkan tambang ilegal maupun mencabut izin usaha yang terbukti melanggar aturan.
“Kami meminta kepada penegak hukum dan pemerintah untuk mengontrol kerusakan lingkungan, mengontrol tambang-tambang yang sudah ada, serta menertibkan tambang ilegal,” katanya.
BACA JUGA: Bangun Dapur Rakyat di Depan Kantor Gubernur, Aliansi Jateng Guyub Bantah Didanai Asing: Kami Iuran Gila-gilaan
Apabila terdapat perusahaan tambang yang melanggar aturan tata ruang, pemerintah harus mengambil tindakan tegas. Joko mengungkap sejumlah wilayah di Jawa Tengah yang menurutnya memerlukan perhatian serius akibat maraknya aktivitas pertambangan.
“Kalau ada yang menyalahi aturan, misalnya Perda RTRW, ya izinnya harus ԁicabut. Saat ini kami melihat di Rembang itu luar biasa, tambang liarnya banyak, belum ada reklamasi, dan banyak yang menyalahi aturan. Pati dan Merapi juga sama, Klaten, Wadas di Purworejo juga seperti itu,” tuturnya.
Saat ԁitanya mengenai Kabupaten Grobogan, Joko menyebut persoalan serupa juga terjadi di sebagian wilayah tersebut. “Iya, Grobogan sebagian,” akunya.





