Selain menyampaikan orasi, Aliansi Jateng Guyub juga menghadirkan tiga grup band untuk menghibur peserta aksi. Joko mengungkap, hiburan tersebut ԁiberikan agar massa tidak jenuh selama mengikuti demonstrasi di bawah terik matahari.
“Ya untuk hiburan saja, agar dulur-dulur tidak jenuh karena situasinya panas. Tapi lagu-lagunya tetap berisi kritikan untuk pemerintah,” katanya.
Para pengisi acara berasal dari masyarakat yang selama ini juga memperjuangkan isu lingkungan, termasuk kelompok penolak proyek panas bumi atau geothermal di Gunung Lawu.
“Iya, ini salah satu bentuk perlawanan. Yang mengisi acara juga teman-teman dari Lawu yang selama ini menolak geothermal. Jadi ya Mbak, rakyat bantu rakyat, rakyat menghibur rakyat,” ujarnya.
BACA JUGA: Bawa Poster ‘Gubernur Ora Tau Kerjo’, Aliansi Jateng Guyub Soroti Kriminalisasi Petani di Jateng
Joko mengatakan, aksi akan berlanjut pada hari ketiga dengan mengajak masyarakat datang membawa kentongan sebagai simbol tanda bahaya.
“Kalau besok, kami lebih mengajak semua lapisan masyarakat di Jawa Tengah untuk datang bersama-sama ke depan Kantor Gubernur dengan membawa kentongan. Itu sebagai simbol tanda bahaya,” kata Joko.
Simbol tersebut menjadi bentuk peringatan terhadap kondisi pemerintahan saat ini. Hingga memasuki hari kedua aksi, Joko mengaku belum ada tanggapan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun Gubernur Ahmad Luthfi terhadap tuntutan yang mereka sampaikan.
“Karena kami melihat pemerintahan saat ini sudah bahaya dan harus kita ingatkan bersama-sama. Untuk kemarin dan hari ini belum ada tanggapan sama sekali dari pemerintah,” ujarnya.
Meski demikian, ia menyambut baik informasi bahwa DPRD Jawa Tengah berencana melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah lokasi tambang menyusul aksi demonstrasi tersebut.
Namun, menurut Joko, langkah tersebut seharusnya tidak perlu menunggu adanya aksi demonstrasi dari masyarakat.
“Kalau begitu terima kasih, artinya ada respons dari DPRD. Tapi seharusnya, tanpa ԁidemo pun pemerintah sudah bertindak sendiri,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





