Gaya Hidup

Icip-icip Serabi Ngampin, Jajanan Legendaris Ambarawa yang Konon Bawa Jodoh

×

Icip-icip Serabi Ngampin, Jajanan Legendaris Ambarawa yang Konon Bawa Jodoh

Sebarkan artikel ini
serabi ngampin
Salah satu pedagang, Paryanti saat membuat serabi Ngampin. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Jalur utama Semarang–Yogyakarta tak hanya menawarkan pemandangan perbukitan dan danau Rawa Pening yang indah. Saat memasuki wilayah Ambarawa, Kabupaten Semarang, tepatnya di Desa Ngampin, deretan warung kecil berjajar rapi di pinggir jalan. Warung-warung ini menjajakan jajanan tradisional khas yang sudah melegenda yaitu serabi Ngampin.

Sekilas, serabi Ngampin tampak serupa dengan serabi pada umumnya. Namun ukurannya lebih kecil, dan cara pengolahannya masih mempertahankan metode tradisional. Proses masak adonan tepung beras di atas tungku tanah liat menggunakan bara api, lalu disiram kuah santan yang dicampur gula Jawa.

Perpaduan rasa gurih dan manis berpadu dengan aroma asap pembakaran, membuat serabi Ngampin memiliki cita rasa khas yang sulit tertandingi. Bagi pembeli, keunikan lain adalah mereka bisa menyaksikan langsung proses pembuatan serabi di warung. Serabi pun tersaji hangat karena pembuatannya sesuai pesanan.

“Kalau makan serabi panas-panas, rasanya lebih lembut dan gurih,” tutur Paryanti, salah seorang pedagang.

BACA JUGA: Langkah Timnas Muda Indonesia Terhenti, Ini Jadwal Lengkap Pertandingan Babak 16 Besar Piala Dunia U-17

Paryanti bukan nama baru dalam jajaran pedagang serabi di Ngampin. Ia sudah akrab dengan serabi sejak kecil, karena kedua orang tuanya juga berjualan.

“Dari SD sudah bantu-bantu. Saya sudah berjualan sekitar 20 tahunan,” ujarnya.

Salah satu pedagang, Paryanti menyajikan serabi Ngampin. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Salah satu pedagang, Paryanti menyajikan serabi Ngampin. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Hingga kini, ia masih menggunakan resep warisan keluarga yang secara turun-temurun. Serabi bagi warga Ngampin bukan sekadar makanan, melainkan sumber penghidupan utama.

Hampir setiap rumah memiliki tungku untuk membuat serabi, dan kini ada sekitar 87 pedagang yang menggantungkan ekonomi keluarga dari jajanan ini. Beberapa di antaranya bahkan sudah memiliki pelanggan tetap dari luar kota.

“Pembeli tidak hanya dari Ambarawa. Ada yang dari Jakarta, Surabaya, bahkan sengaja mampir ke sini kalau sedang perjalanan menuju Yogyakarta,” tambah Paryanti.

Mitos jodoh

Selain dikenal sebagai kuliner khas, serabi Ngampin juga erat kaitannya dengan tradisi. Setiap bulan Ruwah atau Sya’ban, masyarakat setempat melaksanakan ritual di Sendang Condong.

Dalam tradisi ini, warga berjalan kaki menuju sendang, mengambil air, lalu menyantap serabi bersama-sama. Konon, ada keyakinan bahwa menyantap serabi setelah mengikuti ritual akan mempermudah datangnya jodoh.

“Setengah bulan sebelum puasa, ada tradisi mandi sendang atau mengambil airnya. Lalu ada arak-arakan. Nah, mitosnya kalau makan serabi, bisa dapat jodoh. Tapi itu kembali pada kepercayaan masing-masing orang,” jelas Paryanti sambil tersenyum.

BACA JUGA: Dukung Program GeMAR, 98 BUMDes/Desa di Blora Bakal Peroleh Pinjaman Dana Pertanian PT. ANTaM

Dulu, serabi hanya dijual saat momen tradisi tersebut. Namun kini, serabi tersedia setiap hari, dari pagi hingga malam, sehingga wisatawan tak perlu menunggu waktu khusus. Harga yang ditawarkan pun terjangkau. Seporsi berisi lima serabi dijual Rp7.000. Jika ditambah tape ketan, harga naik menjadi Rp9.000.

Meski terhimpit modernisasi, serabi Ngampin tetap bertahan dan justru makin populer. Tidak sedikit wisatawan yang sengaja berburu kuliner ini, baik untuk oleh-oleh maupun sekadar menikmati langsung di warung pinggir jalan.

Kehangatan tungku, aroma santan dan gula Jawa, terlebih dengan cerita mitos jodoh, membuat serabi Ngampin tak hanya menjadi jajanan, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Ambarawa. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp