SEMARANG, beritajateng.tv – Tren Stop the Wedding! viral di TikTok dan Threads setelah lagu berjudul sama dari penyanyi asal Amerika Serikat, Ashe, rilis pada Agustus 2026.
Tren ini sepertinya bukan sekadar ajakan untuk menolak pernikahan. Melainkan menjadi ruang bagi pengguna media sosial untuk mengevaluasi hubungan sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Melalui format “Stop the wedding, but…”, pengguna membagikan berbagai keresahan mengenai pasangan. Mulai dari perselingkuhan, kebohongan, persoalan keuangan, hingga perilaku manipulatif dan kekerasan dalam rumah tangga.
BACA JUGA: Kronologi Calon Pengantin Perempuan di Pati Kabur Jelang Akad, Polisi: Tak Menghendaki Pernikahan
Di sisi lain, tren ini juga menjadi wadah bagi perempuan untuk menyuarakan kekhawatiran terhadap beban domestik dan pengasuhan anak yang tidak seimbang. Kemudian bias gender, serta potensi hilangnya ruang untuk mengembangkan karier setelah menikah.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa pernikahan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai tujuan hidup. Sebagian anak muda justru mulai mempertanyakan kesiapan diri, kualitas hubungan, dan konsekuensi yang akan dihadapi setelah menikah.
Usia Menikah Bukan Lagi Patokan Kebahagiaan
Psikolog Irnida Terana menilai fenomena tersebut tidak bisa lepaskan dari pergeseran nilai-nilai sosial di masyarakat. Menurutnya, pandangan mengenai usia ideal menikah kini semakin longgar berbanding generasi sebelumnya.
Dia bilang, apanila dahulu perempuan berusia 20 tahun yang belum menikah kerap mendapat label negatif, kini kondisi tersebut mulai menjadi anggapan yang wajar. Bahkan, seseorang yang belum menikah pada usia 35 hingga 40 tahun tidak lagi selalu dapat pandangan sebagai sesuatu yang bermasalah.
“Zaman dulu umur 20 nikah sudah kena stigma perawan tua. Umur 25 itu sudah maksimal banget perempuan untuk menikah. Kalau sekarang 35, 40 it’s okay,” kata Irnida kepada beritajateng.tv Jumat, 6 November 2026.





