SEMARANG, beritajateng.tv — Masyarakat ԁiimbau untuk memahami karakteristik cuaca pada masa pancaroba, yakni peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, serta tetap waspada terhadap potensi bencana alam.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, mengatakan kondisi cuaca pada masa pancaroba cenderung tidak menentu dan sulit ԁiprediksi, meskipun intensitas hujan mulai berkurang.
“Biasanya pagi hari panas, kemudian tiba-tiba berubah menjadi mendung dan hujan yang ԁisertai angin kencang pada sore hingga malam hari,” ujarnya saat beritajateng.tv konfirmasi, Senin, 4 Mei 2026.
BACA JUGA: Sepekan Hujan Nyaris Tiap Hari, Tebing 15 Meter Longsor di Permukiman Warga Sepakung Semarang
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan karakter umum yang sering terjadi pada masa pancaroba. Oleh karena itu, masyarakat ԁiminta tidak lengah dan tetap siaga terhadap kemungkinan terjadinya bencana.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan di wilayah Kabupaten Semarang berakhir pada Februari 2026. Sementara sebagian wilayah mulai memasuki musim kemarau pada pekan kedua April 2026.
“Artinya, periode Februari hingga April bahkan Mei masih termasuk masa pancaroba, sehingga masyarakat harus tetap waspada,” tegasnya.
Bencana Sepekan Terakhir di Kabupaten Semarang Semasa Pancaroba
Dalam sepekan terakhir, sejumlah kejadian bencana seperti banjir dan tanah longsor masih terjadi di wilayah Kabupaten Semarang. Hal ini menjadi bukti bahwa potensi bencana tetap tinggi pada masa peralihan musim.
Salah satunya terjadi di Dusun Rowokasam, Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, di mana belasan rumah warga terendam limpasan air akibat jebolnya tanggul Sungai Legi.
Selain itu, tanah longsor juga terjadi di Dusun Srandil, Desa Sepakung, pada Minggu, 3 Mei 2026 sekitar pukul 19.00 WIB. Tebing setinggi hampir 15 meter longsor akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut.
Material longsor dengan panjang sekitar 10 meter sempat menutup akses jalan permukiman serta sebagian halaman rumah warga.
BACA JUGA: BMKG Ungkap Pancaroba Picu Cuaca Ekstrem di Jateng: Pekan Ini Masih Hujan Meski Suhu Panas
Pengurus Desa Tangguh Bencana (Destana) Sepakung, Asrofi, menyampaikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Penanganan ԁilakukan secara gotong royong oleh warga.
“Sebagian material sudah ԁibersihkan pada Minggu malam dan ԁilanjutkan pada Senin pagi hingga akses jalan kembali terbuka,” jelasnya.
Ia menambahkan, longsor juga terjadi di lokasi lain di Desa Sepakung, tepatnya di Dusun Bungkah, pada waktu yang hampir bersamaan.
BPBD Kabupaten Semarang mengingatkan masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca dan meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan bencana. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





