Dari sisi jaringan, Nokia menilai perkembangan AI membutuhkan konektivitas yang mampu mengimbangi pertumbuhan kapasitas komputasi.
President and CEO Nokia, Justin Hotard, mengatakan negara dan perusahaan kini membutuhkan infrastruktur AI yang berdaulat, aman, mudah dikembangkan, dan tepercaya.
“Teknologi jaringan yang AI-native dari Nokia menyediakan konektivitas tepercaya yang menjadi penopang utama generasi baru infrastruktur AI ini,” katanya.
Senior Vice President of Telecom NVIDIA, Ronnie Vasishta, menambahkan AI Factory akan menjadi infrastruktur penting bagi negara maupun berbagai sektor industri.
Menurut dia, pembangunan Zankore dapat memperkuat kemampuan Asia Tenggara dalam mengembangkan dan memanfaatkan AI secara berkelanjutan.
“AI factory merupakan infrastruktur esensial bagi setiap negara dan industri,” ujar Ronnie.
Zankore tidak hanya menyasar perusahaan teknologi. Platform tersebut di rancang untuk melayani penyedia cloud, pelaku usaha, pemerintah, hingga pengembang dan inovator AI.
Dengan model tersebut, Zankore harapannya mampu menjadi infrastruktur bersama yang mempercepat pengembangan aplikasi dan layanan AI di kawasan Asia-Pasifik.
Untuk menjalankan ekspansi tersebut, Zankore telah membentuk jajaran pimpinan. Vikram Sinha di percaya sebagai Director sekaligus Chairman of the Board.
Jajaran direksi lainnya terdiri atas Aziz Aluthman Fakhroo, Thomas Chevanne, Vishal Gupta, dan Arijit Ranjan Sarker. Sementara Ulf Ewaldsson di tunjuk sebagai Chief Executive Officer.
Kombinasi pengalaman di sektor telekomunikasi, teknologi, infrastruktur digital, dan investasi menjadi modal bagi perusahaan untuk mengembangkan platform AI dalam skala regional.
Peluncuran Zankore menunjukkan bahwa persaingan AI kini tidak hanya berlangsung pada pengembangan model atau aplikasi. Penguasaan infrastruktur komputasi, jaringan, energi, dan pusat data menjadi bagian penting dalam menentukan posisi suatu negara dalam ekonomi AI. (*)





