SEMARANG, beritajateng.tv – Ira Ariani (47) sudah beranjak dari kos, di Kelurahan Brumbungan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Selasa pagi, 27 Oktober 2026. Sekira pukul 06.00 WIB, ojek daring mengantarnya menuju shelter Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang, di Kawasan Simpanglima.
Waktu yang dia perkirakan tak boleh meleset. Ibu dua anak ini harus sudah naik angkutan umum bus Trans Semarang rute Penggaron – Mangkang, sekira pukul 06.10 – 06.20 WIB. Dari pusat kota, butuh waktu perjalanan hingga 45 menit untuk sampai ke tempat kerjanya, di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), Kecamatan Semarang Barat.
”Saya masuk pukul 07.00 WIB. Terus pulangnya, saya keluar kantor sekira sore pukul 16.00 WIB. Jadi mungkin dapat busnya sekitaran pukul 16.30, atau maksimal pukul 17.00 WIB,” kata Ira saat beritajateng.tv temui seusai pulang kerja di kompleks DP Mall. Jalan Pemuda, Kota Semarang, Selasa sore, 27 Oktober 2026.
Hari itu, dia mengenakan setelan kemeja hijau pupus. Ransel hitam di punggung, dengan sejumlah buku di dalamnya. Mode rambutnya pixie cut (cepak), tak lupa kacamata dia kenakan.
Penampilan ‘anti ribet’ yang serupa dengan angannya. Sebagai seorang perempuan dia ingin bisa mengakses transportasi publik yang aman, dan nyaman. Pun bagi perempuan, dan kaum rentan lainnya. Terkhusus untuk mobilitas utama di perkotaan.
“Transportasi umum harusnya itu mudah, murah, nyaman dan aman. Soalnya itu kan jadi alat utamanya (mobilitas) masyarakat. Terutama yang nggak punya kendaraan pribadi gitu kan,” bilang Ira.
Ya pagi di hari itu, menjadi pertama kalinya Ira menaiki bus listrik Trans Semarang. e. Padahal, sudah setahun terakhir perempuan pekerja swasta asal Jakarta ini bekerja di Kota Pelabuhan Semarang.





