Dari hasil inspeksi, peralatan pemadam di SPBU Sriwijaya di nilai dalam kondisi baik. Namun, peningkatan kemampuan penggunaan serta kecepatan respons tetap menjadi catatan penting.
“Secara peralatan sudah memadai, tetapi pemanfaatan dan responsnya masih perlu kita manfaatkan,” tambahnya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, and CSR Jawa Bagian Tengah Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan, memastikan bahwa penutupan SPBU sebagai bagian dari evaluasi, bukan karena pelanggaran operasional.
“SPBU kami tutup sementara selama dua hari untuk pembinaan. Ini sebagai langkah peningkatan kewaspadaan dan evaluasi bersama pascakejadian,” ujarnya.
Tutup Sementara Dua Hari
Penutupan mulai sejak Senin dini hari dan akan berlangsung hingga Selasa, 7 April 2026. Selama periode tersebut, seluruh layanan pengisian bahan bakar di hentikan.
Taufiq menambahkan, pihaknya juga telah berkomunikasi dengan pemilik kendaraan yang terbakar. Berdasarkan hasil klarifikasi, diduga terdapat masalah teknis pada kendaraan tersebut.
Di sisi lain, Pertamina memanfaatkan masa penutupan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia serta sistem keselamatan di lapangan.
“Kami fokus pada pembekalan SDM, terutama terkait aspek keselamatan dan pelayanan, agar ke depan petugas bisa lebih sigap dan profesional,” jelasnya.
Ia juga menanggapi sorotan publik terkait respons petugas saat kejadian. Menurutnya, kondisi di lapangan, termasuk fokus pelayanan dan keterbatasan pandangan, turut memengaruhi kecepatan respons.
Melalui pembinaan ini, seluruh pihak berharap kejadian serupa tidak terulang. Upaya pencegahan, kesiapsiagaan, serta sinergi antara petugas dan masyarakat menurutnya menjadi kunci dalam menekan risiko kebakaran di ruang publik.
“Harapannya, setelah pembinaan ini, layanan bisa kembali berjalan dengan lebih aman dan memberikan rasa nyaman bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





