Scroll Untuk Baca Artikel
PeristiwaVideo

Jalan Kaki dari Semarang ke Candi Borobudur, Ini Pantangan Para Biksu Thudong

×

Jalan Kaki dari Semarang ke Candi Borobudur, Ini Pantangan Para Biksu Thudong

Sebarkan artikel ini
Biksu Thudong Semarang
Para Biksu Thudong saat berada di Vihara Buddhadipa, Pakintelan, Gunungpati Semarang. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Menyambut rangkaian Tri Suci Waisak 2568 BE/2024 Masehi, puluhan biksu menjalankan tradisi thudong atau berjalan kaki dari Kota Semarang menuju Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Sebanyak 40 Biksu Thudong tiba di Vihara Buddhadipa Pakintelan, Gunungpati, Semarang Rabu, 15 Mei 2024 petang.

Setelah melakukan penghormatan, para Biksu Thudong melanjutkan perjalanan menuju Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti dengan berjalan kaki.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Kepala Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti, Bhikkhu Ditthisampanno Thera menjelaskan, ritual berjalan kaki para biksu sebagai salah satu bentuk perjalanan religi. Tujuannya antara lain demi mengedepankan pikiran, mengendalikan hawa nafsu, hingga memunculkan sifat rendah diri.

BACA JUGA: Tiba di Semarang, Rombongan 40 Biksu Thudong Napak Tilas di Vihara Buddhadipa Pakintelan

“Pada intinya, thudong adalah praktik perjalanan spritual dalam rangka mencapai satu pemahaman. Untuk mencapai satu pengalaman-pengalaman spritual untuk memahami kehidupan ini,” katanya kepada beritajateng.tv usai penyambutan Biksu Thudong di Vihara Buddhadipa Pakintelan, Gunungpati, Semarang.

Ia menuturkan, jika di Thailand, para biksu biasanya tidak akan makan sama sekali dalam perjalanan thudong. Terlebih saat tidak melintas perkampungan.

Namun, saat melintasi perkampungan dan menerima bantuan pun, para biksu hanya makan satu kali dalam satu hari.

“Jadi ada pantangan, tidak makan setelah tengah hari, tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbohong,” tuturnya.

Dari Vihara Buddhadipa Pakintelan, Biksu Thudong menuju ke Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti

Meski begitu, ia menyebut jika pantangan tersebut sebenarnya telah tercantum dalam patimokkha atau 277 aturan agama Buddha. Sehingga, pantangan-pantangan tersebut merupakan keseharian para biksu.

Tinggalkan Balasan