Pariwisata

Jangan Sampai Anak Cucu Cuma Lihat Foto, Semarang Zoo Soroti Nasib Gajah Sumatera

×

Jangan Sampai Anak Cucu Cuma Lihat Foto, Semarang Zoo Soroti Nasib Gajah Sumatera

Sebarkan artikel ini
Jangan Sampai Anak Cucu Cuma Lihat Foto, Semarang Zoo Soroti Nasib Gajah Sumatera
Pengunjung berswa foto dengan Gajah di Semarang Zoo. (Ellya/beritajateng.tv)

Semarang Zoo juga ingin mengubah pandangan bahwa kebun binatang hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi. Edukasi mengenai satwa dan konservasi menjadi bagian penting dari keberadaan lembaga konservasi.

“Konservasi adalah tanggung jawab bersama. Kebun binatang tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga memiliki peran dalam edukasi, pengenalan satwa, peningkatan kepedulian publik, serta mendukung semangat pelestarian keanekaragaman hayati,” katanya.

Zella jadi pintu masuk edukasi konservasi

Salah satu daya tarik dalam peringatan Hari Gajah Sedunia di Semarang Zoo adalah Zella, gajah Sumatera yang cukup dikenal pengunjung.

Gajah betina tersebut bahkan memiliki kemampuan melukis yang menjadi salah satu atraksi edukasi di Semarang Zoo.

Keberadaan Zella harapannya dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan karakter dan kebutuhan satwa kepada masyarakat.

Semarang Zoo juga berharap Zella dapat berjodoh dengan salah satu dari dua gajah jantan yang berada di kawasan tersebut.

Namun, Bimo menegaskan pengalaman pengunjung bersama Zella seharusnya tidak berhenti pada aktivitas berfoto atau menyaksikan atraksi.

“Kami tentunya berharap pertemuan pengunjung dengan Zella dapat menjadi pengalaman sederhana yang meninggalkan pesan besar. Yaitu mengenal satwa adalah langkah awal untuk peduli, dan kepedulian perlu terwujud dalam tindakan nyata,” tuturnya.

Jangan berhenti setelah Hari Gajah Sedunia

Peringatan Hari Gajah Sedunia menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa konservasi tidak dapat dilakukan hanya pada satu hari tertentu.

Menurut Bimo, kepedulian terhadap gajah Sumatera harus tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat. Kesadaran itu dapat mulai dari hal sederhana, seperti mengenal satwa, memahami habitatnya, dan tidak mendukung aktivitas yang merusak keberadaan satwa liar.

Masa depan gajah Sumatera juga tidak hanya terwujud oleh apa yang dilakukan di kawasan konservasi. Perilaku manusia di luar kawasan tersebut ikut menentukan keberlangsungan satwa liar.

Semakin banyak masyarakat memahami persoalan konservasi, semakin besar pula peluang munculnya dukungan terhadap perlindungan satwa dan habitatnya.