“Bapak ibu sekalian harus tahu, 85 persen dari uang Badan Gizi itu digunakan untuk membeli bahan baku. Bahan bakunya apa? Produk-produk pertanian. Dan 15 persen untuk apa? Untuk membayar yang bekerja di SPPG. Ini adalah aspek ekonomi yang akan beredar di daerah kita, di daerah Jawa Tengah dan DIY,” terangnya.
Singgung MBG jadi efek domino komoditas pangan, BGN ungkap satu SPPG habiskan 5 ton beras tiap bulan
Dalam kesempatan itu, Dadan juga menyinggung penyelenggaraan MBG akan menjadi efek domino terhadap produksi pertanian maupun peternakan di Jawa Tengah.
Dadan menuturkan, satu SPPG setiap bulannya membutuhkan lima ton beras. “Coba bayangkan ya, satu SPPG itu setiap bulan membutuhkan lima ton beras. Lima ton beras itu setara dengan sepuluh ton gabah kering giling. Berapa hektar? Dua hektare,” ucapnya.
“Jadi kalau satu SPPG ingin masyarakat sekitar pasok, maka setahun harus ada 24 hektar luas panen padi. Ya, berapa luas lahan? Kalau tanaman padi itu satu untuk kali setahun, maka butuh 24 hektar. Tetapi kalau tanam dua kali, maka satu SPPG butuh 12 hektar luas lahan padi,” sambung Dadan.
Perhitungan serupa juga berlaku untuk bahan pangan lainnya. Untuk sekali makan dengan menu pisang bagi tiga ribu anak, kata Dadan, perlu sekitar 150 sisir atau 15 tandan pisang.
“Artinya, satu kali makan kita menebang 15 pohon pisang. Kalau dua kali, jadi 30 pohon. Dalam sebulan 120 pohon, dan setahun bisa 1.440 pohon. Itu setara dengan 1,5 hektar lahan pisang,” lanjut Dadan.
BACA JUGA: Wakil Kepala BGN Menangis Marak Keracunan MBG, Hersubeno: Kepalanya Malah Remehkan Kasus
Ia menilai, skala kebutuhan bahan baku tersebut akan menumbuhkan rantai pasok baru di daerah, mulai dari petani, peternak, hingga pelaku usaha kecil di sekitar lokasi SPPG.
Hal serupa juga terjadi pada komoditas ikan lele dan telur ayam. Dalam satu kali makan berbahan lele, satu SPPG membutuhkan sekitar tiga ribu ekor lele.





