SEMARANG, beritajateng.tv – Dari periode Februari-Agustus 2025, BPOM Semarang membenarkan adanya kasus luar biasa (KLB) keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
BPOM memastikan lokasi keracunan MBG ada di Kabupaten Sragen, Kabupaten Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Sukoharjo.
Dengan adanya temuan itu, BPOM Semarang telah mengantisipasi kerawanan kasus keracunan MBG, yakni dengan membekali petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melalui program pelatihan.
Kepala BPOM Semarang, Lintang Purba Jaya, mengatakan, pihaknya melakukan monitoring berdasarkan temuan kasus di lapangan. Tahun ini, kata Lintang, pengawasan masih difokuskan pada tindak lanjut kasus KLB. Hal itu Lintang ungkap via panggilan WhatsApp, Kamis, 28 Agustus 2025.
BACA JUGA: Soal Viral Ulat Buah di Makan Bergizi Gratis, Ini Tanggapan Pemkot Semarang
“Kalau untuk KLB keracunan MBG di Jawa Tengah itu mulai dari Sragen, terus beberapa waktu lalu ada di wilayah Kendal, kemudian di wilayah Boyolali ya kalau enggak salah, sama Sukoharjo,” ujar Lintang.
Ia menambahkan, SPPG sudah diberi pelatihan mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan hingga distribusi makanan. Kendati begitu, Lintang menyebut proses pengolahan dan pengiriman makanan merupakan waktu kritis.
“Yang kritis adalah proses pengolahan sampai dengan pengiriman makanan ini. Yang pertama adalah kaitannya dengan masak yang sesuai tempat waktunya maupun panasnya yang mencapai. Itu yang menjadi fokus kemarin,” katanya.
Cwgah keracunan, distribusi MBG maksimal dua jam setelah matang
Lintang mengungkap, potensi keracunan MBG bisa terjadi saat proses pemasakan maupun pengiriman makanan. Sebagai contoh, kata Lintang, makanan panas harus dipertahankan di atas suhu 60 derajat.
“Untuk pengiriman dan sebagainya itu waktu maksimal adalah 2 jam dari proses masak. Itu yang menjadi fokus di sana, untuk mencegah perkembangan bakteri ataupun mikrobiotik lain,” jelasnya.
Menurutnya, makanan MBG yang berbau busuk atau berulat biasanya disebabkan jeda waktu terlalu lama antara pemasakan dan pengiriman.
“Sehingga bakteri ini bisa berkembang pada makanan yang protein tinggi. Sebagai contoh telur, ayam, ataupun udang,” jelasnya.
Sementara itu, adanya serangga atau ulat dalam makanan biasanya terkait dengan kualitas bahan baku dari supplier.
“Nah, itu penting, waktu kritisnya adalah ketika pemilihan supplier, harus memang betul-betul sudah aman dan sudah memiliki standar untuk pangan,” tambah Lintang.
BACA JUGA: SMPN 19 Semarang Tepis Kabar Miring Makan Bergizi Gratis: Baru Jalan 4 Hari dan Layak Konsumsi
Ia memastikan setiap temuan KLB keracunan MBG akan pihaknya investigasi bersama dinas terkait. Fokus investigasi yakni pada tahapan bahan baku hingga proses memasak.