BLORA, beritajateng.tv – Di tengah kesibukan mengajar, tumpukan administrasi, dan rutinitas yang seolah tak pernah berakhir, sekelompok guru PAUD di Kecamatan Blora menemukan jeda yang sederhana namun begitu berarti.
Ya, sebuah layar lebar, sebuah film tentang guru, dan sebuah ruang gelap yang menyatukan hati mereka.
Semua berawal dari sebuah trailer film bertema dunia pendidikan. Film itu mengangkat kembali sosok guru Oemar Bakri, sebuah ikon perjuangan yang tak lekang oleh zaman.
Ketika para guru PAUD melihat trailer itu, ada sesuatu yang tersentuh di dalam diri mereka. Ada rasa dekat, ada rasa relevan. “Ini kisah kita,” begitu bisik Triana Yuliani, salah satu guru, kepada teman sebangkunya.
Namun, ada satu kendala: film itu tidak masuk daftar tayang di Blora. Setidaknya, sampai sebuah antusiasme kecil berubah menjadi gerakan yang lebih besar.
BACA JUGA: Jelang Puncak Musim Hujan, BPBD Blora Gelar Apel Kesiapsiagaan Bencana: Waspada Banjir-Longsor
Kelompok Kepala Sekolah PAUD (K3PAUD) Kecamatan Blora kemudian bergerak. Dengan dukungan penuh dari Platinum Cineplex MD Mall Blora, mimpi sederhana itu terwujud.
Film yang awalnya tak dijadwalkan tayang, kini justru diputar khusus bagi para Kepala Sekolah dan guru PAUD. Bukan hanya itu, Studio 2 Platinum Cineplex terisi penuh sebanyak 146 guru.
Guru-guru datang membawa rasa penasaran, semangat kebersamaan, dan mungkin sedikit kerinduan pada pengakuan yang selama ini jarang mereka dapatkan.
Begitu lampu studio redup dan layar menyala, hening menyelimuti ruangan. Namun hening itu bukan tanpa suara. Di dalam hati, masing-masing guru seperti bercakap dengan diri sendiri.
Adegan demi adegan memantulkan kembali perjuangan mereka. Pagi yang bergegas, kelas-kelas kecil yang penuh tawa, murid-murid mungil yang menuntut kesabaran tanpa batas, dan terkadang lelah yang tak pernah diceritakan.
Tawa-haru para guru PAUD Blora usai nonton film Belum Ada Judul
Ketika film berakhir, suasana cair seketika. Tawa kecil, tepuk tangan, dan komentar-komentar ringan menyeberangi baris kursi. Beberapa guru bahkan berkata, “Kurangen, rasane pengen nonton maneh.”
Panitia menutup kegiatan dengan memberikan suvenir kecil tanda terima kasih, juga pengakuan bahwa guru PAUD adalah fondasi dari masa depan.
Pengawas PAUD, Tri Marheni, hadir dan mengapresiasi inisiatif para kepala sekolah dan guru. Acara ini sebagai terobosan yang menyatukan guru dalam suasana yang berbeda.
Bukan seminar, bukan rapat, bukan workshop, tetapi ruang di mana mereka bisa merasa menjadi manusia, bukan sekadar penggerak sistem.
“Ini kegiatan yang sarat makna. Kadang guru hanya butuh ruang kecil untuk merasa dihargai.” ujarnya.
BACA JUGA: Polisi Selidiki Dugaan Keracunan MBG di SMPN 1 Blora, Bawa Sampel Makanan ke Labfor
Sementara Ketua K3PAUD Kecamatan Blora, Wahyu Nur Amanah, mengungkap pihaknya ingin terus menghadirkan program yang segar, kreatif, dan tetap edukatif. Ada tiga langkah besar yang ingin mereka kawal setelah menyaksikan film Belum Ada Judul.
Pertama, menguatkan peran kepala sekolah sebagai pemimpin yang sesungguhnya. Kemudian membangun sinergi luas dengan organisasi profesi, NGO, dan berbagai instansi peduli pendidikan. Terakhir, mengawal tujuan pendidikan Blora agar tetap berada di jalur yang benar.
“Kami ingin menjadikan Blora mercusuar inovasi pendidikan. Sebuah pusat cahaya yang bisa diterangi, dilihat, dan ditiru oleh daerah lain,” ungkapnya.
Kadang perubahan besar mulai dari hal kecil. Dari sebuah ruang gelap; dari sebuah cerita yang menyentuh; dari sekelompok guru yang tak pernah lelah mencintai pekerjaan mereka.
Pada peringatan Hari Guru Nasional tahun ini, para guru PAUD Blora tidak hanya menonton film. Mereka melihat cermin. Mereka melihat diri mereka sendiri dan mereka pulang dengan hati yang lebih penuh. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





