Politik

Jateng Perkasa vs Ngopeni Ngelakoni, Ini Kata Pakar Bahasa Soal Tagline Paslon Pilkada

×

Jateng Perkasa vs Ngopeni Ngelakoni, Ini Kata Pakar Bahasa Soal Tagline Paslon Pilkada

Sebarkan artikel ini
Tagline Pasangan Calon
Baliho Pilgub Jateng yang memuat tagline dari masing-masing pasangan calon. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Para pasangan calon yang maju dalam Pilgub Jawa Tengah maupun Pilwalkot Semarang kompak beradu “tagline“.

Melalui media luar ruang yang terpasang di sudut-sudut kota, mereka berusaha menarik simpatik dan dukungan dari masyarakat.

Berdasarkan pantauan di sejumlah titik, semua paslon telah memasang media luar ruang. Sebut saja cagub dan cawagub nomor urut 01 Andika Perkasa dan Hendrar Prihadi dengan tagline “Jateng Perkasa Semakin Hebat”.

Selain itu juga cagub dan cawagub no urut 02 Ahmad Lutfhi dan Taj Yasin dengan tagline “Ngopeni Ngelakoni”.

Peneliti Bahasa dan Budaya Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr. Dhoni Zustiyantoro, menjelaskan, tagline berfungsi sebagai salah satu bentuk sosialisasi kepada publik dan menarik perhatian dari calon pemilih.

BACA JUGA: Survei Litbang Kompas Andika-Hendi vs Luthfi-Yasin: 54,7% Masyarakat Pilih Cagub Berlatar Belakang TNI

Hanya saja, kata Dhoni, tagline tak lagi sekuat dahulu. Banyaknya tagline membuat masyarakat kini tak begitu peduli dengan tagline atau jargon-jargon tertentu.

“Kita setiap hari dibanjiri dengan teks di media sosial, pesan-pesan, sehingga kita kesulitan untuk mengidentikasi mana kalimat-kalimat yang ingin kita pahami maknanya,” katanya.

Kendati demikian, ia menyebut tagline mungkin masih diperlukan dalam konteks kampanye. Namun, memang tak begitu fenomenal seperti dulu.

“Menjadi penting kembali, semestinya para calon mengedepankan politik gagasan. Kalau saya menang mau ngapain, saya layak warga pilih karena saya punya program abcd, itu akan lebih esensial,” sambung dia.

Bagaimana seyogianya tagline politik pasangan calon

Lebih jauh, Dhoni memandang, tagline politik seyogianya mengusung ide dan gagasan, sebagaimana tujuan tagline untuk menarik perhatian calon pemilih namun tetap berlandaskan program kerja.

“Di Pilpres sudah banyak contohnya, enggak ada gagasan yang bisa diambil, namun hanya gimik-gimik semata,” ujar Dhoni.

BACA JUGA: Hasil Survei Litbang Kompas Luthfi-Yasin di Bawah Andika-Hendi, Begini Tanggapan Jokowi

Sehingga, lanjut dia, pertarungan di kontestasi politik bukan berpatok sejauh mana eyecatching tagline, tapi juga seberapa besar ide gagasan paslon untuk kesejahteraan masyarakat.

“Enggak usahlah kita meniru tagline atau kalimat-kalimat yang enggak ada esensinya sama sekali dan kecenderungannya memang manipulasi atau gimik semata,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp