Jateng

Jenang, Tradisi Lebaran dan Filosofi Warga Desa Boto Kabupaten Semarang

×

Jenang, Tradisi Lebaran dan Filosofi Warga Desa Boto Kabupaten Semarang

Sebarkan artikel ini
Proses mengaduk jenang, tradisi yang dilakukan warga Desa Boto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang dalam menyambut Lebaran. (dok. warga)
Proses mengaduk jenang, tradisi yang dilakukan warga Desa Boto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang dalam menyambut Lebaran. (dok. warga)

UNGARAN, beritajateng.tv — Jenang, bagi masyarakat Desa Boto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, menjadi salah satu hidangan yang selalu disiapkan setiap perayaan Idul Fitri.

Penganan tradisional Jawa yang terbuat dari tepung ketan, santan, dan gula merah (gula jawa) ini bahkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan saat hari kemenangan tiba, termasuk pada Idul Fitri 1447 Hijriah/2026.

Bagi masyarakat setempat, jenang bukan sekadar simbol ungkapan syukur, tetapi juga memiliki makna filosofis sebagai bagian dari tradisi silaturahmi antarwarga.

Proses pembuatannya yang panjang dan membutuhkan waktu lama menjadi cerminan nilai kebersamaan. Adonan yang awalnya cair harus terus di aduk hingga mengental dan menghasilkan tekstur kenyal dengan rasa manis khas.

BACA JUGA: Warga Muhammadiyah Kabupaten Semarang Laksanakan Sholat Idul Fitri di 25 Lokasi

Proses ini membutuhkan gotong royong, kesabaran, serta kebersamaan antarwarga.

“Jenang juga menjadi warna lokalitas masyarakat di Desa Boto,” ungkap salah satu tokoh warga, Sjaichul Hadi, Jumat, 20 Maret 2026.

Menurutnya, jenang juga melambangkan penyatuan hati, yang tercermin dari bahan-bahan dasarnya. Proses pembuatan mulai dari kelapa yang terolah menjadi santan hingga menghasilkan minyak.

Kemudian, tepung beras dan gula jawa dicampur menjadi satu dengan santan, lalu dimasak di atas tungku kayu sambil terus diaduk tanpa henti.

“Hingga semua bahan yang di olah tersebut mengental dan menjadi jenang dengan tekstur kenyal,” jelasnya.

Ia menambahkan, tradisi menyiapkan jenang sebelum Lebaran telah terlaksana secara turun-temurun oleh warga Desa Boto.

Dalam proses pembuatannya, warga saling bergotong royong. Hasil jenang yang sudah jadi pun tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada sanak saudara dan tetangga.

BACA JUGA: Jadwal Sidang Isbat Idul Fitri 2026, Lengkap dengan Mekanismenya

Dengan demikian, seluruh warga dapat merasakan kebersamaan melalui sajian tersebut.

Selain itu, tekstur jenang yang kenyal dan cenderung lengket juga memiliki makna tersendiri.

“Bagi kami masyarakat Jawa, ini menjadi harapan agar hubungan persaudaraan antar keluarga dan warga Desa Boto semakin erat dan saling memiliki empati,” tegasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp