SEMARANG, beritajateng.tv – Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, menilai kemampuan bahasa masih menjadi kendala utama yang membuat tenaga kerja Indonesia kalah bersaing dengan pekerja asal Filipina, Bangladesh, Pakistan, hingga India di pasar kerja internasional.
Syahrul menuturkan, kondisi tersebut menyebabkan tenaga kerja Indonesia masih belum banyak mengisi sektor jasa di luar negeri, meski jumlah penduduk Indonesia jauh lebih besar ԁibanding sejumlah negara tersebut.
“Dari pengamatan kita, kalau ke luar negeri itu di bandara yang banyak adalah tenaga kerja dari Filipina, kemudian Pakistan, Bangladesh, dan India. Kita tanya kenapa tidak ada Indonesia? Padahal penduduk kita juga besar,” ujar Syahrul saat kunjungan kerja di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Rabu, 1 Juli 2026.
Ia mengatakan, tenaga kerja Indonesia sebenarnya cukup banyak bekerja di luar negeri. Namun, mayoritas masih berada pada dua kelompok pekerjaan yang berbeda.
“Kebanyakan Indonesia ini yang ԁikirimnya TKW, pembantu rumah tangga atau betul-betul yang high class seperti di perusahaan minyak dan gas. Tetapi untuk level-level service seperti di bandara dan lain-lain tidak ada,” katanya.
Baginya, kondisi tersebut menunjukkan masih ada ruang yang harus ԁiperbaiki agar tenaga kerja Indonesia mampu bersaing pada lebih banyak sektor pekerjaan di luar negeri.
DPR Soroti Kemampuan Bahasa, Jepang Butuh 650 Ribu Pekerja Indonesia
Syahrul menilai rendahnya penguasaan bahasa asing menjadi salah satu penyebab utama tenaga kerja Indonesia belum mampu mengisi berbagai peluang kerja di luar negeri.
Oleh sebab itu, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu meminta pemerintah daerah tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan kerja, namun juga memperkuat kemampuan bahasa bagi calon tenaga kerja.





