Memang pada saat presentasi, bupati/walikota boleh membawa rombongan, yang terdiri dari kepala dinas terkait, tokoh masyarakat, dan pengurus PWI Provinsi/Kota/Kabupaten. “Akan tetapi, mereka tidak boleh membantu bicara; hanya sebagai saksi,” tambahnya.
AK PWI Pusat 2026 mengangkat tema “Pemajuan Kebudayaan daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers”. Dari tiga subtema, kebanyakan buati/wali kota memilih subtema “Penguatan keragaman ekspresi budaya dan interaksi budaya inklusif”.
Melalui potensi budaya masing-masing, hal itu terkait dengan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. “Dewan Juri menyoroti aspek inovasinya apa, dan dampaknya sejauh mana pada masyarakat lokal, nasional, dan global,” tandasnya.
Wartawan dan Komunitas
Lebih jauh, Yusuf menjelaskan AK PWI Pusat telah berlangsung sejak HPN 2016 di Lombok, NTB. Dari sekitar 50 bupati/walikota “alumni” Anugerah Kebudayaan PWI Pusat ini, antara lain Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang kini menjadi Gubernur Jawa, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kini mantan Menteri PANRB, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Ada pula yang teranulir karena tertangkap KPK.
Pada tahun kesepuluh ini, selain kategori bupati/wali kota, tambah satu kategori rintisan yaitu “Wartawan dan Komunitas”. Kategori ini menitikberatkan pada kinerja jurnalistik dan kegiatan seni budaya yang mereka geluti paling kurang selama 10 tahun, dengan dampaknya nasional hingga internasional.
Mereka mendaftar dengan mengirim proposal, CV, copy kartu pers, bukti tulisan, foto/video kegiatan, dan piagam-piagam. Selain dari bebagai daerah di Pulau Jawa, pesertanya juga berasal dari Pulau Sumatra.
BACA JUGA: Tanpa Kembang Api, Pemkab Blora Bakal Rayakan Malam Tahun Baru dengan Pengajian-Sholawatan
Dewan Juri telah menetapkan tiga wartawan senior yang akan menerima penghargaan ini. Pertama, Rahmi Hidayati (Tangerang Selatan), mantan wartawan Bisnis Indonesia yang berkiprah sebagai Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) yang turut mengangkat kebaya meraih warisan tak benda dunia UNESCO.
Kemudian, Seno Joko Suyono (Jakarta/Bekasi), mantan wartawan Tempo, dengan komunitas Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF). Terakhir, Henri Nurcahyo (Surabaya) penggerak komunitas Panji dengan jaringannya sampai Asia dan internasional, serta turut berjuang sehingga Panji meraih warisan dunia tak benda dunia UNESCO. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi













