Jateng

Kampung Batik Semarang Direvitalisasi, Punya Workshop, IPAL dan Berkonsep Ramah Lingkungan

×

Kampung Batik Semarang Direvitalisasi, Punya Workshop, IPAL dan Berkonsep Ramah Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Kampung Batik Semarang Direvitalisasi, Punya Workshop, IPAL dan Berkonsep Ramah Lingkungan
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti meresmikan workshop dan IPAL Kampung Batik Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kampung Batik Semarang kini semakin cantik dan berkembang sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan ramah lingkungan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mulai melengkapi berbagai fasilitas seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengurangi dampak lingkungan pencemaran limbah.

Fasilitas tersebut memungkinkan para perajin memproduksi batik dengan pewarna alam tanpa mencemari lingkungan sekitar.

Tak hanya itu, di kampung Batik Semarang juga kini memiliki workshop sebagai sarana belajar dan edukasi masyarakat.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng berkomitmen untuk membuat Kampung Batik sebagai sentra batik ramah lingkungan, sekaligus mengembangkan identitas Batik Semarang.

Dalam kunjungan itu, Agustina menyoroti pengelolaan produksi batik yang telah memiliki fasilitas lengkap Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

“Ini keren sekali, karena di belakang sudah ada IPAL. Artinya memang sejak awal kita niatkan untuk produksi batik dengan pewarna alam, bukan sekadar batik dengan pewarna biasa,” ujar Agustina.

BACA JUGA: Hilangkan Stigma Kumuh dan Rawan Kriminal, Begini Sejarah Revitalisasi Kampung Batik Djadhoel Semarang

Menurutnya, keberadaan IPAL menjadi bukti bahwa Kampung Batik Rejomulyo tidak hanya menjaga tradisi membatik, tetapi juga beradaptasi dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Hal ini dinilai penting untuk menjaga eksistensi batik Semarang di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan.

Tak berhenti pada aspek produksi, Agustina juga mengapresiasi inisiatif pelaku batik yang menggagas pengembangan museum batik Semarang. Museum tersebut rencananya akan menampilkan replika dan sejarah batik Semarang sejak era 1800–1900-an.

“Nantinya akan ada produk-produk berkualitas yang dihasilkan di sini, sekaligus penguatan pengetahuan sejarah batik Semarang. Ini menjadi upgrade yang sangat baik, tidak hanya soal produksi, tapi juga edukasi,” jelasnya.

Agustina menyebut revitalisasi Kampung Batik menjadi bagian dari komitmen Pemkot Semarang dalam menjaga kawasan ini sebagai warisan budaya.

Revitalisasi tersebut juga menjadi penanda dua dekade pengembangan Kampung Batik Rejomulyo sejak pertama kali berdiri pada 2006.