SEMARANG, beritajateng.tv – Kapan hujan akan turun di Jawa Tengah (Jateng)? Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di Provinsi Jawa Tengah terjadi pada November 2026.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Ahli Madya Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana, mengatakan, awal musim hujan 2026-2027 diperkirakan mundur akibat fenomena El Nino yang kuat, dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang mengarah pada tren positif.
Zauyik Nana Ruslana, mengatakan, kondisi global saat ini didominasi El Nino kuat dengan indeks positif 2,63. Kondisi tersebut perkiraannya akan bertahan hingga awal 2027.
BACA JUGA: Kapan Hujan Mulai Turun di Semarang dan Jawa Tengah? Begini Penjelasan BMKG
Sementara itu, IOD yang pada pemantauan Juni-September berada pada kondisi netral, mulai menunjukkan nilai positif pada September 2026. Tren tersebut prediksinya bertahan hingga akhir 2026.
“Awal musim hujan di Provinsi Jawa Tengah umumnya terjadi pada November 2026. Sebesar 58 persen dari total luasan wilayah Jateng masuk penghujan,” katanya pada konferensi pers awal musim hujan Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Rabu 30 September 2026.
Daftar Wilayah Alami Musim Hujan Pertama
Zauyik Nana Ruslana mengatakan, dari persentase tersebut, sebanyak enam persen wilayah mengalami awal musim hujan pada awal November atau dasarian pertama.
Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Wonosobo, sebagian Banjarnegara, sebagian kecil Temanggung, Purbalingga, Tegal, Brebes, dan Banyumas.
BACA JUGA: Wilayah Jawa Tengah Masih Kemarau Tapi Sesekali Turun Hujan, BMKG Sebut Durasi dan Curah Berbeda
Sementara itu, wilayah yang paling akhir memasuki musim hujan, diperkirakan terjadi pada dasarian kedua Desember atau pertengahan Desember.
Jumlahnya sekitar enam persen wilayah Jawa Tengah. Meliputi sebagian besar Kabupaten Jepara, sebagian Kabupaten Rembang, serta sebagian kecil Kabupaten Demak, Pati, dan Wonogiri.
Puncak Musim Hujan
Adapun puncak musim hujan di Jawa Tengah perkirakannya terjadi pada Januari, Februari, dan Maret 2027.
Berdasarkan jumlah Zona Musim (Zom), pada Januari 2027 sebanyak 24 Zom atau 40 persen dari luas wilayah Jateng, perkiraannya mengalami puncak musim hujan.
Kemudian pada Februari sebanyak 22 Zom, dan Maret sebanyak delapan Zom.
“Bila kita bandingkan dengan kondisi normalnya, maka musim hujan perkiraanya mundur akibat dampak kemarau lebih panjang dan anomali iklim El Nino sangat kuat, serta IOD positif,” kata Zauyik Nana Ruslana.
Dia mengatakan, sebagian besar wilayah Jawa Tengah, mengalami awal musim hujan yang mundur lebih dari satu bulan atau tiga dasarian dibandingkan kondisi normal.
BACA JUGA: Trauma Longsor Besar di Desa Ngrawan, Warga Tolak Eksplorasi Geothermal Gunung Telomoyo
Secara umum, durasi musim hujan 2026-2027 perkiraanya berlangsung selama lima hingga enam bulan.
Karena itu, menjelang musim hujan, Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mengingatkan masyarakat untuk mempersiapkan diri dengan baik.
Terlebih, terdapat potensi bencana hidrometeorologis yang perlu jadi kewaspadaan, terutama saat masa pancaroba.
BACA JUGA: Rencana Pemerintah Ngebor 19 Titik Geothermal di Jawa Tengah Terungkap
Selain masyarakat, sektor pertanian juga harus mewaspadai potensi banjir serta mengoptimalkan kebersihan saluran irigasi.
“Waspadai banjir bandang, longsor, dan puting beliung pada pancaroba. Jika awal musim hujan prediksinya terjadi pada November, maka pancaroba mulai pertengahan Oktober sebagai masa peralihan musim,” kata Zauyik Nana Ruslana. (*)
Editor: Diaz A Abidin





