Melalui simbol makanan, Sunan Kalijaga mengajarkan pentingnya bersedekah serta mengakui kesalahan diri sendiri di hadapan sesama manusia maupun Tuhan.
Bungkus janur kuning pada ketupat dipercaya masyarakat Jawa sebagai sarana penolak bala yang efektif. Bentuk segi empat pada makanan ini juga memiliki prinsip “kiblat papat lima pancer” yang bermakna bahwa tujuan akhir manusia hanyalah kepada Sang Pencipta.
BACA JUGA: Lebaran Ketupat: Fenomena Budaya dalam Mempertahankan Solidaritas Sosial
Beras yang mengisi janur tersebut menjadi harapan akan datangnya kemakmuran serta keberkahan rezeki bagi seluruh keluarga setelah melewati bulan suci Ramadan.
Hingga saat ini, tradisi Lebaran Ketupat 2026 terus lestari sebagai identitas budaya yang memperkuat struktur sosial masyarakat di pedesaan maupun perkotaan. (*)





