Gaya Hidup

Kasus Virgoun Selingkuh dengan Tenri Ajeng, Psikolog Sebut Dapat Timbulkan Trauma pada Anak

×

Kasus Virgoun Selingkuh dengan Tenri Ajeng, Psikolog Sebut Dapat Timbulkan Trauma pada Anak

Sebarkan artikel ini
Virgoun selingkuh
Perselingkuhan Tenri Ajeng dan Virgoun menjadi topik bahasan di media sosial. (dari berbagai sumber)

SEMARANG, beritajateng.tv – Beberapa waktu lalu, sosial media Instagram heboh oleh Inara Rusli yang membongkar perselingkuhan suaminya. Virgoun selingkuh dengan Tenri Ajeng Anisa atau Tenten Anisa.

Selain menimbulkan trauma pada pasangan, perselingkuhan orang tua juga dapat menjadi pengalaman yang sangat traumatis bagi anak-anak mereka.

Psikolog Klinis Diyah Puspitaningrum menilai, anak yang dihadapkan dengan konflik orang tua berpotensi mengalami trauma pada kemudian hari. Terlebih, anak yang terlibat langsung dalam konflik orang tua paling rentan terkena trauma.

BACA JUGA: Profil Tenri Ajeng Anisa alias Tenten Anisa, Perempuan Diduga Selingkuhan Virgoun

“Hal-hal negatif dari orang tua akan menjadi trauma mendalam ketika anak melihat, mendengar, dan mempelajari langsung perilaku yang tidak cukup aman dan nyaman pada proses perkembangan mereka,” jelasnya kepada beritajateng.tv, Jumat 28 April 2023.

Kasus Virgoun selingkuh, lanjutnya, karena pada hakikatnya manusia belajar melalui sensori-sensori tubuh. Apa yang mereka lihat, dengar, terima, dan rasakan nantinya akan masuk ke dalam proses memori atau ingatan yang berdampak pada proses perkembangan perilakunya.

Orang tua Perlu Berikan Gambaran Positif pada Anak

Ia menegaskan penting bagi orang tua untuk terus memberikan gambaran positif dan menjadi role model yang baik kepada anak. Hal tersebut akan menyelamatkan anak dalam perkembangan perilaku masa depan.

“Ketika dia melihat ayah atau ibunya menjadi manusia yang baik, dia pun akan belajar besok ketika menikah akan menjadi orang tua yang baik,” katanya.

BACA JUGA: Profil Inara Rusli Istri Virgoun, Sebelumnya Pernah Gabung Girlband

Terakhir, ia menghimbau agar para orang tua agar dapat menyelesaikan masalah secara dewasa. Pun dalam proses penyelesaian masalah, penting untuk selalu memantau kondisi psikologis anak.

“Penting untuk memisahkan masalah dari sudut pandang mana masalah itu muncul. Kalau itu masalah perkawinan selesaikan secara suami-istri tanpa melibatkan anak supaya gambar anak ketika dewasa tetap positif,” pungkasnya. (*)

Editor: Ricky Fitriyanto