SEMARANG, beritajateng.tv – Petani penggarap sawah di Dusun Pluwang, Desa Wringin Putih, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang harus menelan kerugian setelah tanaman padi yang mereka tanam mengering akibat kekurangan air.
Tanaman padi di sejumlah petak sawah lahan bengkok tersebut mati lebih awal setelah debit air irigasi terus menurun dan tidak lagi mampu mengairi lahan pertanian.
Padahal, sebagian besar tanaman padi masih berusia sekitar 20 hari setelah semai (HSS). Namun karena tidak mendapatkan pasokan air, tanaman tersebut kini mengering dan tidak dapat diselamatkan.
Kondisi itu membuat para petani penggarap kembali mengalami kerugian setelah sebelumnya juga menghadapi serangan hama tikus.
Salah seorang petani, Basiroh (61), mengatakan dirinya sudah mengalami kerugian pada musim tanam sebelumnya akibat serangan hama tikus yang cukup parah.
BACA JUGA: Monyet Ekor Panjang Rawan Turun ke Permukiman saat Kemarau, BKSDA Jateng: Kasus Terbanyak di Wonogiri dan Semarang
Padahal, petani telah berupaya mengendalikan hama tersebut dengan memasang sejumlah rumah burung hantu (rubuha) di sekitar area persawahan.
Namun upaya tersebut belum mampu mengendalikan serangan tikus secara optimal.
Berharap musim tanam kedua dapat menutup kerugian sebelumnya, Basiroh justru kembali menghadapi masalah setelah debit air irigasi menurun lebih cepat.
“Sejak bulan Juni lalu air irigasi sudah tidak mampu mengairi sawah yang saya garap. Jadi kali ini kembali gagal panen karena tidak ada tanaman padi yang terselamatkan,” ungkapnya, di Dusun Pluwang, Jumat 14 Agustus 2026.
Menurut Basiroh, kerugian yang harus ditanggung mencapai jutaan rupiah. Nilai tersebut baru mencakup biaya pembelian benih, pupuk dan obat-obatan.
“Jadi belum sama pengolahan tanah, tenaga tandur (tanam) dan sewa bengkok,” jelasnya.
Kondisi sawah yang mengering juga berdampak terhadap ketersediaan pakan ternak. Basiroh mengaku kini semakin kesulitan mencari pakan untuk kambing peliharaannya.
BACA JUGA: Perhutani Blora Gandeng Warga Cegah Karhutla, Imbau Tak Bakar Lahan Saat Kemarau
Ia terpaksa memanfaatkan tanaman perdu maupun tumbuhan lain yang masih memiliki daun hijau di sekitar area persawahan.
“Musim kemarau kali ini benar-benar sulit, karena beberapa tanaman pakan ternak di sawah juga sudah mengering,” tandas warga Desa Gondoriyo, Kecamatan Bergas, tersebut. (*)
Editor: Farah Nazila





