Jateng

Monyet Ekor Panjang Rawan Turun ke Permukiman saat Kemarau, BKSDA Jateng: Kasus Terbanyak di Wonogiri dan Semarang

×

Monyet Ekor Panjang Rawan Turun ke Permukiman saat Kemarau, BKSDA Jateng: Kasus Terbanyak di Wonogiri dan Semarang

Sebarkan artikel ini
Monyet Ekor Panjang
Ketua Tim Kerja Konservasi Spesies dan Genetik BKSDA Jawa Tengah, Heru Sunarko, saat ditemui di Kantor BKSDA Jawa Tengah, Kamis, 13 Agustus 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Memasuki musim kemarau, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah mewaspadai meningkatnya potensi konflik antara satwa liar dengan manusia.

BKSDA mencatat, laporan gangguan satwa liar tidak hanya berkaitan dengan macan tutul atau macan kumbang. Aduan yang paling banyak justru berkaitan dengan monyet ekor panjang yang masuk atau mengganggu aktivitas masyarakat.

Ketua Tim Kerja Konservasi Spesies dan Genetik BKSDA Jawa Tengah, Heru Sunarko, mengatakan laporan gangguan dan konflik satwa biasanya mulai muncul menjelang hingga selama musim kemarau.

“Memang biasanya menjelang atau pada saat musim kemarau, ada beberapa laporan masuk terkait gangguan dan konflik satwa. Di Jawa Tengah ini sebenarnya tidak hanya kasus macan tutul atau kumbang saja. Justru aduan yang paling banyak adalah gangguan monyet ekor panjang,” ujar Heru saat beritajateng.tv jumpai di Kantor BKSDA Jawa Tengah, Kamis, 13 Agustus 2026.

Heru mengungkap, sejumlah laporan masyarakat terkait gangguan monyet ekor panjang telah ԁitindaklanjuti oleh BKSDA.

Ia menyebut, sebaran laporan tersebut hampir merata di berbagai wilayah Jawa Tengah. Namun, beberapa daerah yang cukup banyak menerima gangguan antara lain Wonogiri, Kabupaten Semarang, dan Temanggung.

“Sebarannya hampir merata di wilayah Jawa Tengah. Namun, utamanya cukup banyak terjadi di Wonogiri, Semarang, kemudian di daerah Temanggung. Itu hampir merata di Jawa Tengah untuk kasus gangguan monyet ekor panjang,” jelasnya.

BACA JUGA: Macan Kumbang Masuk Permukiman di Batang, BKSDA Jawa Tengah: Kakinya Pincang, Tak Bisa Berburu Normal

Mengantisipasi potensi konflik satwa selama musim kemarau, BKSDA meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan satwa liar di sekitar lingkungan mereka.

Heru mengatakan, masyarakat yang tinggal di kawasan yang berpotensi menjadi lintasan satwa, khususnya macan, ԁiminta memperkuat kandang ternak.

“Imbauan kami ke masyarakat, khususnya terkait keberadaan satwa macan, mohon ԁitingkatkan kewaspadaannya. Kuatkan kandang-kandang ternaknya dan berikan penerangan yang cukup di malam hari,” tuturnya.