“Kami telah menggandeng Kopernik untuk mengembangkan peta jalan, membuat rangka acuan dan alat pengukuran wisata berkelanjutan untuk usaha akomodasi dan rumah makan skala menengah dan kecil di Bali,” ucap Suzy Hutomo selaku Founder dan CEO dari Eco Tourism Bali.
Selama bulan April dan Mei 2022, Eco Tourism Bali bersama Kopernik sudah mewawancarai beberapa hotel usaha menengah dan kecil tersebar dari Selatan, Utara, Barat, Timur dan Tengah Bali sebagai referensi acuan dari peta jalan penerapan wisata berkelanjutan. Pada tahap selanjutnya akan dilaksanakan proses serupa kepada rumah makan usaha skala menengah dan kecil di Bali.
“Eco Tourism Week merupakan langkah awal terciptanya Bali sebagai pusat destinasi wisata berkelanjutan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 6,7, 11 dan 12 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di dalam tahap awal pengembangan peta jalan industri pariwisata yang berkelanjutan, kami telah merangkum dan mengeluarkan empat komponen utama dan 30 kriteria terinspirasi dari GSTC, untuk dapat memahami kelayakan dari bisnis akomodasi skala menengah dan kecil untuk wisata berkelanjutan. Ke-4 komponen tersebut adalah konservasi sumber daya, mengurangi polusi, konservasi biodiversitas dan manfaat sosial untuk komunitas lokal,” tambah Rahmi Fajar Harini selaku Co-founder dan COO dari Eco Tourism Bali.
Eco Tourism Week juga dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemegang kebijakan termasuk pihak pemerintah dan asosiasi pariwisata seperti ASITA, BTB, GMHA dan lain-lain. Juga menggandeng Bali Investment Club (BIC) guna mendorong usaha-usaha rintisan yang melakukan bisnis berkelanjutan di Bali.
Salah satu agenda yang dilaksanakan pada saat Eco Tourism Week adalah penandatanganan Nota Kesepahaman antara Eco Tourism Bali dan Bali Tourism Board yang diwakili oleh Ida Bagus Partha Adnyana atau yang lebih dikenal sebagai Gus Agung selaku Chariman Bali Tourism Board.





