Jateng

Kemiskinan Jateng Turun jadi 9,48 Persen, BPS: Industri hingga Produksi Padi Faktor Utama

×

Kemiskinan Jateng Turun jadi 9,48 Persen, BPS: Industri hingga Produksi Padi Faktor Utama

Sebarkan artikel ini
Pengangguran Jateng
Kepala BPS Jawa Tengah, Endang Tri Wahyuningsih, saat dijumpai di kantornya, Jumat, 13 Juni 2025. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Produksi padi yang naik signifikan sepanjang awal 2025 disebut sebagai salah satu pemicu turunnya kemiskinan di Jawa Tengah.

Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Endang Tri Wahyuningsih mengungkapkan sektor pertanian kembali jadi andalan, bersanding dengan industri dan investasi, hingga angka kemiskinan turun jadi 9,48 persen.

“Kalau dibanding [kemiskinan] September 2024 yang 9,58 persen, sekarang Maret ini jadi 9,48 persen. Ini penurunan yang baik, dan tentu tak lepas dari penguatan sektor riil, khususnya pertanian dan industri,” ucap Endang saat beritajateng.tv konfirmasi, Rabu, 30 Juli 2025.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Jateng pada triwulan I 2025 tercatat sebesar 1,8 persen, tertinggi kedua nasional setelah Maluku Utara.

“Kita kuat di industri, kontribusinya sekitar 33 persen. Tapi jangan lupa, pertanian juga luar biasa. Posisinya sekarang jadi sektor penyumbang ekonomi nomor dua, yang sebelumnya nomor tiga. Ini prestasi,” sambung Endang.

Produksi padi meningkat akibat penguatan pangan oleh pemerintah

Khusus sektor pertanian, Endang menyebut lonjakan produksi padi jadi penanda kuat.

“Produksi padi di triwulan I 2025 tercatat 2,19 juta ton gabah kering giling. Daripada triwulan sebelumnya yang 1,98 juta ton, ini naik signifikan. Kalau kita lihat lebih jauh, ini efek dari program penguatan pangan yang konsisten pemerintah provinsi jalankan,” papar Endang.

BACA JUGA: Kemiskinan Jateng di Urutan Kedua se-Pulau Jawa, DPRD Minta Pemuda Katolik Jawa Tengah “Gerak”

Endang menekankan pentingnya sinergi antarprogram dan antarwilayah. Ia menyebut keberhasilan ini bukan hanya milik satu sektor atau instansi.

“Enggak bisa sektor pendidikan jalan sendiri, kesehatan sendiri. Harus disinergikan, seperti yang disampaikan Pak Gubernur saat Rakor TKPKD. Semua kepala daerah, dari bupati sampai sekda, harus satu komando,” tegasnya.

Beras tak lagi jadi kontribusi inflasi

Dalam pengendalian inflasi, beras yang sebelumnya menjadi penyumbang utama kini mulai tergeser.

“Beras itu punya dampak langsung ke kemiskinan, jadi harus ada pengendaliannya. Alhamdulillah sekarang sudah mulai bergeser. Kontributor inflasi terbesar malah emas. Ini menunjukkan pengendalian pangan kita cukup baik,” ungkapnya.

BPS juga mendorong pemanfaatan maksimal Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Menurutnya, dengan padanan NIK, data ini bisa memperkuat ketepatan sasaran program bantuan.

“Belum sempurna, iya. Tapi ini langkah penting untuk penanganan kemiskinan yang lebih presisi. Kalau bisa dipadankan dengan data daerah, lebih tajam lagi. Bisa dipakai untuk program rumah, sekolah rakyat, dan lain-lain,” ucap Endang.

Soal investasi, Endang menyebut Jateng masih punya daya saing besar. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang dan sentra industri Kendal disebut sebagai magnet baru.

“Kami sudah MoU dengan Pak Gubernur untuk mendukung pendataan kawasan industri. Karena potensi ekonomi Jateng besar, baik dari ekspor nonmigas, industri, sampai pertanian,” jelasnya.

BACA JUGA: Ombudsman Jateng Awasi Data Kemiskinan dan KK dalam SPMB 2025, Soroti Verifikasi Piagam Prestasi

Secara keseluruhan, Endang menyebut ada tiga pengungkit ekonomi Jateng saat ini, yakni industri, pertanian, dan investasi.

“Ketiganya jadi motor utama pertumbuhan. Tapi tetap, sinergi antarlembaga dan kesadaran masyarakat juga kuncinya. Karena keberhasilan menurunkan kemiskinan bukan kerja satu pihak. Semua harus nyatu,” tandas Endang. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp