“Walaupun belum ada kreasi khusus, namun ketertarikan mulai tumbuh. Hanya saja perlu waktu yang cukup lama, dari bulan hingga tahun untuk mengenalkan seni kuda lumping ke generasi muda,” ungkapnya.
Dia menambahkan, anak muda tertarik karena banyak pemuda di kabupaten/kota lain menekuni kebudayaan lokal dan membuat mereka penasaran. Hngga akhirnya ikut terlibat dalam setiap pementasan.
“Walaupun dengan keterbatasan alat, kami terus berupaya menjaga tradisi budaya lokal kami tetap terjaga,” imbuhnya. (adv)
editor: ricky fitriyanto





