SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Perumahan dan Permukiman terus berupaya meningkatkan layanan perawatan lingkungan, khususnya dalam penanganan pohon rawan tumbang. Namun, keterbatasan armada menjadi tantangan utama yang saat ini Pemerintah hadapi.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Semarang, Murni Ediati menyebut bahwa idealnya setiap kecamatan memiliki alat berat berupa skylift dan dump truk untuk menunjang layanan di lapangan.
“Idealnya kita punya 16 armada sesuai jumlah kecamatan. Tapi saat ini baru tersedia tujuh unit. Tahun ini kami mencoba mengusulkan tambahan sekitar lima armada secara bertahap,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keterbatasan tersebut tidak lepas dari kemampuan anggaran daerah. Pasalnya, harga satu unit armada, terutama skylift, terbilang cukup tinggi sehingga pengadaan harus berjalan secara bertahap.
“Untuk dump truk kisaran harganya sekitar Rp600 juta, sementara skylift bisa lebih dari Rp1 miliar per unit. Jadi memang harus sesuai dengan kemampuan APBD,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya menegaskan komitmen untuk tetap memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Terutama dalam merespons potensi bahaya dari pohon-pohon tua.
“Yang penting kami tetap hadir di tengah masyarakat dan memberikan layanan secepat mungkin sesuai arahan wali kota,” katanya.
BACA JUGA: Catat Tanggalnya! Semarang Jadi Tuan Rumah Event Olahraga Nasional, Sepanjang April 2026
Selain penambahan armada, Disperkim juga menerapkan strategi peremajaan pohon secara berkelanjutan. Pohon-pohon yang menurutnya rawan tumbang tidak langsung di tebang, melainkan di ganti secara bertahap.
“Kami sudah punya data inventarisasi pohon. Untuk yang rawan, biasanya kami tanam pohon pengganti terlebih dahulu. Setelah itu baru melakukan penebangan, supaya tidak membuat kawasan menjadi gundul,” terangnya.
Langkah ini mempertimbangkan usia dan jenis pohon, sehingga proses peremajaan tetap menjaga keseimbangan lingkungan kota.
Adapun wilayah yang paling berpotensi mengalami pohon tumbang umumnya berada di kawasan pinggiran atau ring dua dan tiga Kota Semarang. Seperti Gunungpati, Ngaliyan, Mijen, Banyumanik, hingga Tembalang.
“Di wilayah tersebut potensi pohon tumbang lebih tinggi dari pusat kota,” ungkapnya.





