Jateng

Kisah Asih Pahami Bahasa Hati Hewan, Dari Rescue Kucing Terlantar hingga Jadi Animal Communicator

×

Kisah Asih Pahami Bahasa Hati Hewan, Dari Rescue Kucing Terlantar hingga Jadi Animal Communicator

Sebarkan artikel ini
Animal Communicator
Animal Communicator, Asih Hardianti, saat bersama salah satu kucing peliharaannya, Vici, Minggu, 17 Mei 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Apa Itu Animal Communicator?

Menurut Asih, dasar ilmu animal communicator sebenarnya merupakan komunikasi menggunakan gelombang alfa atau kondisi bawah sadar manusia.

“Selama ini manusia lebih banyak menggunakan otak kiri atau logika. Padahal kita juga punya otak kanan yang terhubung dengan pancaindra dan gelombang alfa,” jelasnya.

Melalui kondisi tersebut, seseorang ԁisebut bisa melakukan komunikasi nonverbal dengan makhluk hidup, termasuk hewan.

BACA JUGA: Update Kasus Video Viral Dugaan Kekerasan Kucing di Blora, Polisi Gandeng Ahli ITE

Asih menegaskan komunikasi yang ԁilakukan bukan berarti memahami suara hewan seperti “meong” atau “guk-guk”, melainkan komunikasi batin menggunakan bahasa manusia.

“Kalau saya komunikasi dengan kucing ya pakai bahasa Indonesia, bukan meong-meong,” ujarnya sambil tertawa.

Dalam praktiknya, animal communicator lebih banyak memberikan afirmasi positif kepada hewan untuk membantu mengubah perilaku maupun kondisi emosional mereka.

Kisah Vici, Kucing Rescue dari TPS Belakang Lawang Sewu

Pengalaman paling berkesan bagi Asih justru datang dari kucing peliharaannya sendiri bernama Vici.

Kucing tersebut ia rescue bersama dua saudaranya sekitar Januari 2019 dari tempat pembuangan sampah (TPS) di belakang Lawang Sewu, Semarang.

Tiga anak kucing itu ԁiberi nama Vini, Vidi, dan Vici, terinspirasi dari kalimat “Vini, Vidi, Vici”. Namun, dua di antaranya mati karena sakit dan hanya Vici yang bertahan hidup.

Seiring bertambah besar, Vici tumbuh menjadi kucing berbadan besar dan punya kebiasaan unik yakni suka menakut-nakuti anak kucing lain.

“Dia senang ngejar kucing kecil sampai ada yang takut dan ngompol,” kata Asih.

Awalnya ia menganggap perilaku itu wajar. Namun setelah belajar animal communicator, Asih mencoba berkomunikasi dengan Vici untuk mencari penyebabnya.

Jawaban yang ia rasakan justru membuatnya terkejut. “Aku senang badanku gede, aku cuma iseng. Ternyata mereka takut beneran,” ujar Asih menirukan pesan yang ia tangkap dari Vici.

Sejak itu, Asih rutin memberikan afirmasi positif kepada Vici seperti meminta agar lebih sayang dan rukun dengan kucing lain.