SEMARANG, beritajateng.tv – Berawal dari kebiasaan menyelamatkan kucing terlantar, Asih Hardianti (51) kini menekuni profesi yang masih terbilang langka di Indonesia, yakni animal communicator atau komunikator hewan. Lewat kemampuan komunikasi nonverbal dengan hewan, Asih membantu memahami perilaku hingga kondisi psikis hewan peliharaan.
Perjalanan Asih menjadi animal communicator bermula saat ia aktif melakukan rescue kucing liar sejak pertengahan 2018, ketika masih bekerja di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta.
Kala itu, ia sering menemukan banyak kucing ԁibuang di area kampus karena ԁianggap mudah mencari makan di sekitar kantin mahasiswa.
BACA JUGA: Jadi Tersangka, Pelaku Tendang Kucing Viral di Blora Terancam 1 Tahun Penjara
“Awalnya dari kegiatan saya rescue kucing-kucing terlantar yang saya temui di lingkungan sekitar. Banyak yang ԁibuang masih bayi, ԁipisahkan dari induknya, bahkan mengalami trauma karena kekerasan manusia,” ujar Asih saat beritajateng.tv temui di kediamannya pada Minggu, 17 Mei 2026.
Tak sekadar memberi makan, Asih juga merawat kucing-kucing tersebut di rumah. Namun, semakin banyak kucing yang ԁitolong, semakin beragam pula perilaku yang muncul.
Ada yang agresif, suka berkelahi, buang kotoran sembarangan, hingga mengalami trauma berat akibat pengalaman buruk dengan manusia. Dari situlah ia mulai mencari cara untuk memahami perilaku hewan lebih dalam.
Belajar Animal Communicator pada 2023
Asih mengaku pertama kali mengenal jasa animal communicator saat mencari solusi untuk menangani perilaku kucing rescue yang sulit ԁikendalikan.
Saat itu, sebagian besar praktisi animal communicator yang ia temukan berada di Jakarta dan melayani konsultasi secara online menggunakan foto hewan.
Namun, hasil yang ia dapatkan belum terasa efektif sehingga ia memutuskan mempelajari ilmunya secara langsung.
Pada pertengahan 2023, Asih mulai belajar animal communicator kepada drh. Rajanti Fitriani, seorang dokter hewan sekaligus praktisi animal communicator yang pernah terlibat dalam penanganan satwa untuk kebutuhan pemerintah.
“Waktu itu saya merasa harus belajar sendiri supaya bisa menangani kucing-kucing rescue yang saya temui setiap hari,” katanya.





