Sosialisator Jiwa Semangat dan Nilai 45 (JSN 45) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jawa Tengah, Chandra Adhie Nugroho, menjelaskan Kho Siang Bo merupakan salah satu pejuang keturunan Tionghoa yang tergabung dalam Angkatan Muda Lemah Gempal saat Pertempuran Lima Hari Semarang pada 14-18 Oktober 1945.
Menurutnya, pertempuran di Semarang berbeda dengan daerah lain karena lebih banyak melibatkan rakyat sipil daripada kekuatan militer.
BACA JUGA: Sekda Jateng Dorong Pertunjukan Pertempuran Lima Hari Semarang Jadi Festival Wisata Sejarah
“Mayoritas yang berjuang adalah pemuda dan masyarakat umum. Salah satunya Ko Siang Bo, warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Lemah Gempal,” jelas Chandra.
Saat tentara Jepang menyerbu dan membakar permukiman warga, Kho Siang Bo yang tengah menggendong Juhari yang masih berusia 17 hari segera menyerahkan bayinya kepada sang istri.
“Tiba-tiba terdengar teriakan ‘Jepang ngamuk’. Beliau [Kho Siang Bo] keluar rumah, kemungkinan ingin menyelamatkan warga atau membantu memadamkan kebakaran. Namun begitu keluar rumah, beliau langsung ԁisongsong tembakan Jepang dan gugur di tempat,” tuturnya.
Karena situasi perang, jenazah Kho Siang Bo ԁimakamkan di pekarangan rumah keluarga di Lemah Gempal. Beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1950-an, jasadnya ԁipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang.
Chandra menegaskan kisah Kho Siang Bo menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia ԁilakukan oleh seluruh elemen masyarakat tanpa memandang suku maupun keturunan. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





