Jateng

Kisah Rafi Ayah Muda di Kampung Sekip Semarang, Antara Bayi 1 Bulan dan Ancaman Tanah Bergerak

×

Kisah Rafi Ayah Muda di Kampung Sekip Semarang, Antara Bayi 1 Bulan dan Ancaman Tanah Bergerak

Sebarkan artikel ini
Kampung Sekip
Rafi Rahmadani (25), warga Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, saat ditemui pada Senin, 6 April 2026 petang. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah ancaman tanah bergerak yang melanda Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Semarang, Rafi Rahmadani (25) menghadapi situasi yang jauh dari kata mudah.

Di saat seharusnya menikmati peran barunya sebagai ayah, ia justru dihantui ketidakpastian tempat tinggal untuk keluarganya, termasuk bayi pertamanya yang baru berusia satu bulan.

“Yang penting sekarang tempat yang layak dulu, Mas. Nyaman buat keluarga. Soalnya anak saya masih bayi, baru satu bulan,” ujar Rafi saat beritajateng.tv temui pada Senin, 6 April 2026 petang.

Rafi baru menikah sekitar dua tahun lalu dan menetap di Kampung Sekip mengikuti sang istri yang merupakan warga asli setempat. Sehari-hari, ia bekerja sebagai montir di bengkel mobil. Penghasilannya cukup untuk kebutuhan dasar, namun jauh dari cukup jika harus menyewa rumah secara mandiri.

BACA JUGA: Cemas Jelang Batas Waktu Pengungsian, Warga Kampung Sekip Harap Kepastian Huntara dan Relokasi

“Kalau harus ngontrak, jujur berat. Yang kerja cuma saya, buat sehari-hari saja kadang sudah pas-pasan,” katanya.

Kondisi semakin sulit ketika tanah di kawasan tempat tinggalnya terus bergerak, terutama saat hujan turun. Rumah yang sebelumnya ia tempati kini tak lagi aman, sehingga ia harus mengungsi ke tempat yang relatif lebih stabil.

“Rumah saya di sana sudah rawan, tanahnya terus bergerak. Sekarang ngungsi di sini,” ungkapnya.

Ia menyebut pergerakan tanah bisa mencapai sekitar dua meter dan semakin parah saat hujan deras mengguyur. “Kalau hujan [tanahnya] masih bergerak. Terakhir kemarin, hari Minggu, masih terasa. Kalau hujan deras, geraknya lebih cepat,” jelasnya.

Sekeluarga Pilih Tetap Bertahan di Kampung Sekip

Meski kondisi berbahaya, Rafi dan keluarganya memilih tetap bertahan. Bukan tanpa alasan, ia mengaku tidak punya pilihan lain. “Bingung mau ke mana lagi. Mau pindah juga tidak ada tempat,” ujarnya.

Dalam satu rumah yang kini ia tempati sementara, terdapat delapan orang dari keluarga besar. Mereka tinggal berhimpitan di tengah keterbatasan, sambil terus waspada terhadap kemungkinan tanah bergerak kembali.

Status lahan yang ditempati warga pun bukan milik pribadi, melainkan tanah milik TNI yang selama ini hanya ditempati dengan izin. Hal ini semakin mempersempit ruang gerak warga untuk mencari solusi mandiri.

Rafi mengaku hingga kini belum ada kepastian relokasi dari pemerintah, meski sempat ada wacana pemindahan warga ke lokasi yang lebih aman. “Katanya mau direlokasi, tapi sampai sekarang belum ada keputusan,” katanya.

BACA JUGA: Tanah Bergerak di Kampung Sekip Semarang, Rumah Warga Geser dan Roboh Usai Hujan Deras

Di tengah situasi tersebut, harapan Rafi sederhana: tempat tinggal yang aman dan layak untuk keluarganya, terutama bagi sang bayi yang baru lahir. “Enggak muluk-muluk, yang penting aman dan nyaman buat keluarga,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua RT 07 RW 01 Kampung Sekip, Joko Sukaryono, mengatakan hingga saat ini warga masih bertahan di tenda darurat tanpa kepastian langkah lanjutan dari pemerintah.

Data sementara, terdapat 17 rumah terdampak tanah bergerak di Kampung Sekip, dengan empat rumah di antaranya roboh. Sebanyak 23 kepala keluarga (KK) terdampak, di mana sebagian warga kini masih bertahan di tenda, sementara lainnya terpaksa mengontrak, ngekos, atau menumpang di rumah kerabat.

“Empat rumah roboh, sebagian sudah ngekos atau ngontrak secara mandiri tanpa subsidi. Yang lain masih di tenda dan cemas karena belum tahu akan ke mana setelah ini,” jelas Joko. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp