BANDUNG, beritajateng.tv — Kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap wanita berinisial YTR (29) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terus mengungkap fakta-fakta memilukan.
Dalam tayangan Curhat Bang Denny Sumargo, korban penganiayaan tersebut akhirnya menyampaikan langsung kesaksiannya melalui pesan suara. Dari pengakuan tersebut terungkap bahwa selama kurang lebih dua hingga tiga tahun, ia tidak pernah mendapat izin keluar dari kamar kos tempat kekasihnya, TH, menyekapnya.
Korban mengaku kondisinya semakin memburuk setelah penglihatannya hilang akibat penganiayaan yang terus-menerus pelaku lakukan.
“Waktu dua tahun tiga tahun itu kamu enggak boleh keluar dari kosan?” tanya Denny Sumargo.
“Enggak bisa karena udah enggak bisa lihat,” jawab korban.
Korban mengatakan setiap kali dirinya mengeluarkan suara atau merintih kesakitan saat disiksa, pelaku justru kembali menganiayanya.
“Kalau misalkan disiksa terus saya mengeluarkan suara, rasanya dia malah nyiksa lagi,” ungkapnya.
BACA JUGA: Heboh Wanita Hilang di Bandung, Ternyata Disekap Pacar hingga Buta dan Penuh Luka
Menurut korban, pelaku yang bekerja sebagai kolektor sering meninggalkannya sendirian di kamar kos. Sebelum pergi bekerja, pelaku memintanya tetap berada di dalam kamar dan tidur hingga ia kembali.
“Dia kerja sebagai kolektor. Kalau dia pergi ke konsumen, saya suka ia (pelaku) suruh tidur,” katanya.
Apabila pelaku mengajak korban keluar, pelaku selalu memintanya mengenakan masker.
“Kalau misalkan ikut, saya disuruh pakai masker,” ujarnya.
Korban juga mengungkap berbagai bentuk kekerasan fisik yang ia alami selama bertahun-tahun. Selain wajah dan mata, pelaku juga memukul bagian telinga hingga kaki.
“Sering dipukul. Pertama muka dulu yang dipukul, terus telinga, terus kaki,” tuturnya.
Tak hanya mengalami kekerasan fisik, korban mengaku pelaku paksa membuat tato.
Korban Penganiayaan Hanya Mendapat Makan Sekali Sehari
Dalam kesehariannya, korban mengaku hanya mendapat makan sekali dalam sehari. Karena sudah tidak bisa melihat, seluruh aktivitasnya sangat bergantung kepada pelaku.
“Sehari cuma satu kali makan,” ucap korban.
Korban mengatakan telepon genggam yang ia gunakan untuk berkomunikasi juga pelaku belikan setelah ia kehilangan penglihatannya.
Meski hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, korban akhirnya berhasil keluar dari tempat penyekapan setelah pemilik kos mengantarkannya ke rumah keluarganya.
Menurut pengakuannya, saat tiba di rumah, tubuhnya penuh dengan luka dan darah.
“Aku di antar ke sini sama yang punya kosan. Waktu sampai rumah, aku dalam keadaan penuh luka, keluar darah semua,” katanya.
Korban mengaku selama menjalani penyiksaan tersebut sempat kehilangan harapan untuk bisa pulang. Namun di tengah penderitaan yang ia alaminya, ia terus berdoa agar dapat kembali bertemu keluarganya.
“Awalnya enggak ada harapan. Tapi aku terus berdoa sama Allah. Ya Allah, bagaimanapun juga aku ingin pulang. Sekalipun nanti dalam keadaan apa pun, orang tua harus tahu keadaan aku,” tuturnya.
Ia juga menceritakan bahwa sebelum mengenal pelaku, ia masih bekerja dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Namun perlahan pelaku mengambil alih kendali atas kehidupannya, termasuk menguasai barang-barang miliknya.
“Motor, handphone, iPhone, gaji juga sama dia. Katanya buat kebutuhan sehari-hari, ya aku ikut saja,” ujarnya.
BACA JUGA: Kasus Dugaan Penganiayaan Pengurus HIPMI Jateng Naik Penyidikan, Kuasa Hukum Terlapor Klaim Sudah Berdamai
Di akhir pesannya, korban berharap pelaku mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya melalui proses hukum. (*)





