“Awalnya kami menetapkan semuanya rata di 36. Tapi begitu hasil SPMB ini ternyata masih belum bisa memenuhi target, maka ԁimungkinkan ada satu sekolah yang melebihi dari angka 36,” ungkapnya.
Dengan demikian, lanjut Sunarto, sekolah yang memiliki lebih banyak peminat dapat menampung siswa di atas kuota awal, selama jumlah keseluruhan penerima program tidak melebihi 5.004 siswa.
BACA JUGA: Kisah Siswanto: Putrinya Gagal di SMA Negeri, Tapi Dapat Sekolah Gratis Lewat Program Kemitraan
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya Disdik Jawa Tengah mengoptimalkan kursi yang masih tersedia, alih-alih membiarkan kuota kosong di sekolah yang minim peminat.
Lebih jauh, Sunarto mengungkap proses pemenuhan kuota masih berlangsung hingga akhir Agustus. Disdik Jateng bekerja sama dengan para kepala cabang dinas untuk menyisir anak-anak dari keluarga kurang mampu yang belum mendapatkan sekolah.
Batas waktunya mengikuti pemutakhiran data pada Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang berlangsung hingga 31 Agustus.
“Kalau di ketentuan Dapodik itu input Dapodik sampai dengan tanggal 31 Agustus. Nah, sekolah swasta ini bisa melakukan rekrutmen sampai dengan tanggal 31 Agustus ini nanti,” jelasnya.
Namun, proses tersebut bukan berupa pembukaan pendaftaran baru secara umum. Sekolah kemitraan dapat menerima calon siswa melalui mekanisme koordinasi dan komunikasi dengan Disdik maupun cabang dinas, dengan tetap memenuhi persyaratan program.
“Kami tidak membuka pendaftaran, tetapi melalui mekanisme koordinasi dan komunikasi. Syarat yang tadi kami tentukan mesti harus ԁipenuhi dulu,” imbuh Sunarto.
BACA JUGA: Tiga Ratus Ribu Lulusan SMP di Jateng Terancam Tak Lolos Sekolah Negeri, Pemprov Siapkan 139 Sekolah Swasta Mitra
Lebih jauh, Sunarto menegaskan, belum penuhnya kuota tidak otomatis membuat Pemprov Jateng menambah jumlah sekolah kemitraan.
Disdik justru melakukan evaluasi terhadap lokasi sekolah untuk melihat apakah sekolah tersebut berada di wilayah yang benar-benar memiliki kebutuhan siswa dari keluarga kurang mampu.





