Dia menilai latihan puncak itu juga memperlihatkan, bahwa prajurit kedua negara mampu bekerja sama tanpa perbedaan berarti dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
“Tujuan latihan ini adalah interoperabilitas yang sangat baik. Menurut saya, tujuan itu sudah tercapai,” ucap David.
Dia berharap kerja sama pelatihan dapat memperkuat hubungan militer Indonesia dan Australia. Sekaligus meningkatkan kemampuan prajurit dalam menghadapi berbagai situasi operasi.
BACA JUGA: Buka-bukaan Kasus Perundungan Aqib di Pemalang! Ibu Ungkap Keseharian, Rajin Ibadah hingga Perilaku Berubah
“Saya sangat bangga bahwa latihan ini dapat dilaksanakan dengan lancar dan aman,” katanya.
Latihan gabungan tersebut melibatkan 125 personel Indonesia dari empat komando daerah militer (Kodam), yakni Kodam Jaya, Kodam III/Siliwangi, Kodam IV/Diponegoro, dan Kodam V/Brawijaya.
Sementara itu, pihak Australia mengerahkan 77 personel untuk mengikuti rangkaian latihan bersama tersebut.
Prajurit Hadapi Pertarungan Jarak Dekat hingga Evakuasi Korban
Simulasi tidak hanya menguji kemampuan menembak dan pergerakan taktis, tetapi juga kesiapan prajurit menghadapi situasi ketika senjata tidak dapat digunakan. Dalam kondisi tersebut, personel harus mengandalkan kemampuan bela diri untuk menghadapi lawan dalam pertarungan jarak dekat.
Adegan pertarungan satu lawan satu menjadi salah satu bagian latihan. Prajurit juga mempraktikkan teknik bela diri taktis dan pergerakan bersama rekan untuk melumpuhkan lawan, baik tanpa maupun dengan penggunaan kekuatan yang dapat berakibat fatal sesuai skenario latihan.
BACA JUGA: Aqib Ungkap Ciri-ciri 3 Terduga Pelaku Perundungan, Ibu: Yang Ketiga Tunjuk Kaus Hitam
Letda Inf. Rangga Dwika, salah satu peserta dari Batalyon Infanteri 500/Sikatan Surabaya, mengatakan, materi bela diri taktis yang dipelajari mencakup teknik melumpuhkan lawan sekaligus pentingnya dukungan antarprajurit ketika menghadapi ancaman.
“Dalam materi bela diri taktis, kami mempelajari bagaimana melumpuhkan lawan, baik tanpa maupun dengan tindakan yang dapat berakibat fatal. Di doktrin mereka [Australia], kita bertempur tidak pernah sendirian. Jadi, jangan pernah berpikir kalau menghadapi musuh itu selalu sendirian,” katanya.





