Gaya Hidup

Layang-layang 3D Hiasi Langit Blora, Angkat Kearifan Lokal hingga Kuliner Tradisional

×

Layang-layang 3D Hiasi Langit Blora, Angkat Kearifan Lokal hingga Kuliner Tradisional

Sebarkan artikel ini
Layang-layang 3D
Layang-layang 3D bertema "Blandong Jati" menjadi juara 1 pada Lomba Layang-layang Hias 3D Bupati Blora Cup 2026. (Foto: Dok. Pemkab Blora)

“Teman-teman Jati membuat layangan berbentuk blandong jati. Filosofinya adalah jati yang mencerminkan keteguhan hati, kekuatan prinsip hidup, dan kemampuan beradaptasi di tengah kesulitan. Sebagai ‘raja kayu’, nilai-nilai pohon jati sarat dengan makna tentang karakter manusia dan perjalanan hidup,” kata Edy.

Dalam karya tersebut juga terdapat dua sosok yang sedang menggergaji kayu. Menurut Edy, bagian itu menggambarkan nilai kerja sama, keseimbangan peran, serta kesabaran dalam mencapai tujuan bersama.

Pembuatan layang-layang 3D blandong jati tersebut membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Tim juga melakukan sejumlah percobaan agar layang-layang berukuran besar itu dapat terbang dengan baik.

BACA JUGA: Catat Tanggalnya! Bakal Ada Festival Layang-Layang Internasional di Kota Semarang

“Alhamdulillah bisa juara. Tentunya ini menjadi pelecut semangat kami yang ada di Kecamatan Jati,” ujarnya.

Bupati Blora, Arief Rohman, mengapresiasi penyelenggaraan lomba yang ԁinilainya bukan sekadar menghadirkan hiburan bagi masyarakat.

Menurutnya, keterlibatan 29 tim dari berbagai kecamatan menunjukkan bahwa lomba tersebut telah menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas dan kekompakan.

“Saya mengapresiasi peserta lomba layangan hias yang ԁiikuti 29 tim yang mewakili kecamatan se-Kabupaten Blora. Artinya, kegiatan ini bukan hanya milik satu kelompok atau satu wilayah, tetapi sudah menjadi ruang bersama bagi masyarakat Blora untuk menunjukkan kreativitas, kekompakan, dan kecintaan terhadap budaya daerah,” ujar Arief.

Ia menilai tema kearifan lokal yang ԁiangkat dalam lomba memiliki nilai strategis. Layang-layang tidak hanya ԁibuat untuk menjadi tontonan, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan budaya, kesenian, tradisi, cerita rakyat, kuliner hingga potensi daerah.

“Layangan tidak hanya menjadi permainan atau hiburan, tetapi juga menjadi media promosi budaya dan potensi daerah. Saya berharap setelah ini semakin banyak kegiatan kreatif masyarakat yang muncul dari desa, kelurahan, kecamatan, komunitas maupun generasi muda,” katanya.

BACA JUGA: Kisah Toko Maganol Semarang, Ramai Diburu Tatkala Musim Layang-layang