UNGARAN, beritajateng.tv – Ratusan anak dari Generasi Z dan Generasi Alpha memanfaatkan masa liburan sekolah dengan cara berbeda. Mereka tampil membawakan seni ketoprak yang mengangkat kisah kepahlawanan Nyai Ageng Serang dalam pagelaran budaya yang Sanggar Budaya Condrowinoto gelar di Ungaran.
Pementasan tersebut merupakan bagian dari kegiatan pendadaran atau kenaikan tingkat bagi para murid Sanggar Budaya Condrowinoto yang berlokasi di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, proses pendadaran selalu terkemas melalui pertunjukan seni sebagai ajang bagi para murid menampilkan kemampuan yang telah mereka pelajari. Yakni selama mengikuti pendidikan budaya di sanggar.
Dalam pagelaran kali ini, para murid membawakan seni ketoprak. Yakni yang mengisahkan perjuangan BRAy Kustiyah Wulaningsih Retno Edi, tokoh yang lebih terkenal sebagai Nyai Ageng Serang.
Meski sebagian besar pemain berasal dari kalangan Gen Z dan Gen Alpha, mereka mampu membawakan lakon tersebut dengan baik. Sehingga menarik perhatian masyarakat yang hadir.
BACA JUGA: 250 Gen A dan Gen Z Ramaikan Turnamen Mobile Legends Kapolres Cup 2026 di Blora
Pementasan itu juga mendapat perhatian khusus karena langsung R. Hendro Marwoto saksikan, yakni utusan sekaligus Ketua Paseduluran Trah Hamengku Buwono II.
“Karena Hamengku Buwono II merupakan besan dari Nyai Ageng Serang,” ujar pendiri sekaligus pengelola Sanggar Budaya Condrowinoto, RNgt Eropeana Puspitasari, di sela pagelaran, Jumat, 26 Juni 2026 malam.
Menurut Eropeana, kisah Nyai Ageng Serang terpilih agar generasi muda mengenal sosok pejuang perempuan yang memiliki keberanian dan keteguhan dalam melawan penjajahan Belanda.
“Nyai Ageng Serang adalah pejuang perempuan yang tegas dan pemberani dalam mempertahankan Nusantara dari kolonialisme Belanda,” katanya.
Saat ini, Sanggar Budaya Condrowinoto membina sekitar 100 murid mulai tingkat SD hingga SMA yang belajar berbagai seni dan budaya Jawa.
Melalui pembelajaran tersebut, sanggar berupaya menanamkan kecintaan terhadap budaya. Sekaligus memperkuat jati diri generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi.
“Saya selalu menanamkan kepada mereka bahwa mereka lahir, hidup, tumbuh, dan berpendidikan di tanah Jawa. Lalu apa yang bisa mereka berikan kepada tanah leluhur,” ungkapnya.
Menurutnya, anak-anak tidak boleh kehilangan identitas budayanya. Dengan memahami akar budaya sendiri, harapannya, mereka mampu menjadi generasi penerus dan pemimpin yang tetap berpegang pada nilai-nilai Nusantara.
BACA JUGA: Ratusan Pelajar Serbu Turnamen E-Sport Kapolres Cup 2026 di Blora, Polisi Ajak Gen Z Jauhi Kenakalan Remaja
Selain seni ketoprak, Sanggar Budaya Condrowinoto juga membuka kelas tari Jawa, karawitan, pedalangan, serta budi pekerti Jawa yang wajib diikuti seluruh murid.
“Anak-anak tidak hanya belajar menari, bermain gamelan atau mendalang, tetapi juga harus memiliki budi pekerti Jawa sebagai bagian dari jati dirinya. Pagelaran ketoprak ini menjadi implementasi dari seluruh proses pembelajaran yang mereka jalani di sanggar,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





