Salah satu siswa, Helsa Risky Yunesti, menjelaskan bahwa sekolahnya sedang melaksanakan ujian praktik prakarya dengan anyaman rotan. Yang paling sulit, kata Helsa, adalah menggabungkan rotan atau menganyam, serta mempertahankan bentuk keranjang.
Ia pun berharap dengan belajar hal ini, nantinya, baik dirinya, teman-temannya, maupun generasi muda lain se-Kota Semarang dapat mengembangkan dan melestarikan budaya. Khususnya, kerajinan rotan ini.
“Jadi tidak hanya pengrajinnya saja, namun semakin banyak yang belajar menganyam rotan akan semakin bagus. Sudah sepatutnya kita yang muda meneruskan,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





