SEMARANG, beritajateng.tv – Jepara mungkin tersohor sebagai daerah kerajinan ukiran dan rotan terbesar di Jawa Tengah (Jateng). Namun, jangan salah, di Kota Semarang ternyata juga ada sentra rotan.
Sentra itu ialah Sumber Rejeki Rotan, yang berlokasi di Pakintelan, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang. Ahmad Sholeh, sang pemilik, mampu melihat peluang bisnis rotan di Semarang.
Awalnya, ia belajar menganyam rotan untuk menjadi pilihan berwirausaha. Pasalnya, kata Ahmad, tak banyak perajin rotan di Kota Semarang.
“Belajar rotan karena bisa menjadi pilihan berwirausaha. Karena tak banyak perajin rotan, saya menjadi perajin sejak 1998,” kata Ahmad saat beritajateng.tv temui, Selasa, 30 April 2024.
BACA JUGA: Perajin Akar Kayu Jati di Blora Rambah Pasar Ekspor Luar Negeri
Ia sendiri selama ini memproduksi kerajinan rotan berdasarkan permintaan. Misalnya seperti keranjang, kursi, meja, bahkan bentuk-bentuk hewan. Total, lebih dari 100 macam rotan yang bisa ia buat.
Ahmad biasanya mengambil rotan dari pengepul di Jepara yang mengambil langsung dari Kalimantan. Sehingga, kualitas rotan buatan Ahmad sangatlah terjamin.
“Saya pernah mengekspor bentuk kangguru ke Australia sebanyak 200 buah. Lalu [bentuk] bunga ke Inggris beberapa kali. Beberapa bulan nanti juga sudah ada permintaan lagi ke Inggris,” tuturnya.
Konsisten ajarkan kerajinan rotan ke generasi muda
Lebih jelas, Ahmad mengatakan jika kerajinan rotan penting untuk dikenalkan kepada masyarakat, terutama para generasi muda. Sebab, selain bisa menjadi peluang usaha, rotan juga merupakan salah satu bentuk budaya lokal
Menjadi satu-satunya sentra rotan di Semarang, tak jarang jika tempat Ahmad menjadi tempat edukasi budaya kerajinan rotan bagi para pelajar.
Bahkan, ia menyebut jika semua pelajar dan mahasiswa di Semarang yang belajar rotan pasti di tempatnya. Seperti halnya para siswa SMPN 22 Semarang yang baru-baru ini turut belajar di sana.
BACA JUGA: Unik, Kerajinan Anyaman Bambu Khas Banjarnegara
Salah satu siswa, Helsa Risky Yunesti, menjelaskan bahwa sekolahnya sedang melaksanakan ujian praktik prakarya dengan anyaman rotan. Yang paling sulit, kata Helsa, adalah menggabungkan rotan atau menganyam, serta mempertahankan bentuk keranjang.
Ia pun berharap dengan belajar hal ini, nantinya, baik dirinya, teman-temannya, maupun generasi muda lain se-Kota Semarang dapat mengembangkan dan melestarikan budaya. Khususnya, kerajinan rotan ini.
“Jadi tidak hanya pengrajinnya saja, namun semakin banyak yang belajar menganyam rotan akan semakin bagus. Sudah sepatutnya kita yang muda meneruskan,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





