SEMARANG, beritajateng.tv – Cuaca dan udara yang terasa panas di Kota Semarang diperkirakan akan terjadi sepanjang Oktober 2025.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ahmad Yani Semarang menyebut, cuaca panas yang terjadi di Pulau Jawa, tak terkecuali di Jawa Tengah. Penyebab dari hal ini karena posisi matahari yang bergerak menuju selatan di bulan Oktober.
Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang, Rany Puspita Eka Wati, menambahkan, posisi Jawa Tengah berada di selatan ekuator. Oleh sebab itu, kata Rany, matahari terasa berada di atas kepala.
“Nah, memang karena di bulan Oktober ini, pertama mulai dari posisi matahari, posisi matahari di bulan Oktober ini menuju ke selatan,” ujar Rany saat beritajateng.tv jumpai di kantornya, Jumat, 17 Oktober 2025 malam.
Ia menjelaskan, pada bulan Oktober, arah angin dominan dari timur dan membawa massa udara kering. Kondisi ini membuat udara semakin terasa panas dan sumuk, meskipun sesekali ada yang angin bertiup.
“Kita di Jawa Tengah termasuk di selatan ekuator, memang berasa mataharinya di atas kita. Lalu arah anginnya di bulan ini dominan dari arah timur, yang mana kalau angin dari arah timur itu kebanyakan membawa massa udara kering, ada angin tapi berasa sumuk,” ujarnya.
BACA JUGA: Semarang Panas Menyengat Capai 35 Derajat Celsius, BMKG: Tetap Berpotensi Hujan Walau Jarang
Rany menyebut, minimnya tutupan awan pada siang hari memperkuat suhu panas yang warga Kota Semarang rasakan. Kombinasi ketiga faktor tersebut, kata dia, membuat cuaca terasa sangat terik sejak pagi hingga sore hari.
“Terus juga di tambah panas dan juga sedikit tutupan awan pada siang hari. Makanya kenapa memang terasa panas dan juga sumuk gitu,” ucapnya.
BMKG memperkirakan, cuaca panas ini akan terus masyarakat rasakan sepanjang Oktober. Berdasarkan catatan suhu dari tahun 2015–2024, bulan Oktober merupakan puncak panas tahunan di Kota Semarang.
“Untuk panasnya sendiri, kalau dari data kami yang tercatat itu di bulan Oktober memang panas-panasnya untuk di wilayah Jawa Tengah khususnya di wilayah Kota Semarang,” ujar Rany.
Catatan BMKG menunjukkan suhu tertinggi di Kota Semarang pernah mencapai 39,5°C pada Oktober 2015. Data suhu maksimum tahun ini akan dirilis setelah akhir bulan lantaran rekapitulasi dilakukan bulanan.
“Berdasarkan data pengamatan kami sejak 2015, suhu tertinggi di bulan Oktober di Kota Semarang pernah mencapai 39,5 derajat,” ucapnya.
BACA JUGA: Kembali Latihan, Pemain Asing PSIS Adaptasi Cuaca Panas Semarang Lagi Usai Pulang Kampung
Rany menjelaskan, untuk pekan ini, BMKG belum dapat merilis suhu tertinggi harian secara resmi. Data suhu maksimum dan minimum baru akan diketahui setelah akhir bulan.
“Kalau untuk sepekan ini kita perlu lihat datanya dulu, karena biasanya memang kita kumpulkan data itu per hari dan untuk lihat maksimum minimumnya itu menunggu satu bulan habis dulu,” katanya.
Pantura jadi daerah di Jateng yang terpanas, BMKG sebut Kota Semarang salah satunya
Selain Kota Semarang, kabupaten/kota yang berlokasi di pesisir utara Jawa Tengah atau Pantura menjadi kawasan yang paling terasa panas sepanjang Oktober.
Rany menjelaskan suhu udara di kawasan pesisir secara umum cenderung lebih panas dibandingkan wilayah pegunungan. Kondisi ini terjadi karena letak geografisnya yang berdekatan dengan laut. Ia menambahkan, faktor angin laut ikut memperkuat sensasi panas di kawasan pesisir.
“Kalau dilihat, di Pantura itu memang sudah pasti lebih panas ketimbang Pegunungan Tengah. Selain dekat laut, angin dari laut juga cenderung kering. Jadi panasnya memang lebih terasa,” ujarnya.
Menurutnya, letak geografis menjadi faktor utama. Kawasan pesisir memiliki kelembapan udara yang lebih rendah daripada wilayah pegunungan, sehingga panas matahari terasa lebih menyengat.
UV Indeks Kota Semarang masuk lima besar tertinggi di Jateng,
Lebih jauh, BMKG juga mencatat UV indeks di Kota Semarang tergolong tinggi. Kota ini, kata Rany, masuk dalam lima besar wilayah dengan indeks UV tertinggi di Jawa Tengah.
“Kalau untuk terakhir yang saya lihat ya, Kota Semarang UV indeksnya cukup tinggi kalau dari data rata-rata yang ada di Jawa Tengah, Semarang pasti masuk di lima, empat besar gitu ya. Karena memang cukup tinggi, selain kita juga dekat sama pesisir juga,” terang Rany.
Ia mengingatkan, paparan sinar matahari dengan UV indeks tinggi dapat berdampak serius pada kesehatan. Risiko yang perlu diwaspadai antara lain dehidrasi dan heatstroke.
“Tetap selalu waspada ya, karena memang selain ada perubahan kondisi cuaca yang bisa tiba-tiba hujan deras kemudian angin kencang, yang paling pasti berpengaruh pada kesehatan ya, makanya kita tetap jaga kesehatan, banyak minum air putih, kalau bisa jangan terkena paparan sinar matahari secara langsung,” katanya.
BACA JUGA: Duh! Jawa Tengah Capai Suhu 38 Derajat Celcius, BMKG Peringatkan Bahaya Ultraviolet Ekstrem
Tak hanya itu, Rany juga menyarankan masyarakat Kota Semarang untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari.
“Kalau bisa tidak aktivitas di luar ruangan terbuka, di lapangan misalkan, hindari kalau bisa. Dan pasti banyak minum air putih biar tidak terdehidrasi dan juga karena memang pasti bisa bikin panas heatstroke. Jadi memang harus hati-hati dan lebih antisipasi saja,” pungkas Rany. (*)
Editor: Farah Nazila





