Jateng

Mahasiswa Unissula Desak Menhut Raja Juli Antoni Dicopot, Karhutla jadi Bencana Nasional

×

Mahasiswa Unissula Desak Menhut Raja Juli Antoni Dicopot, Karhutla jadi Bencana Nasional

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa Unissula saat aksi di depan Kantor Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah, Semarang Selatan, Jumat sore, 16 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Mahasiswa Unissula saat aksi di depan Kantor Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah, Semarang Selatan, Jumat sore, 16 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sejumlah mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional.

Mereka juga menuntut penindakan tegas terhadap pelaku pembakaran hutan, transparansi izin pembukaan lahan, hingga pencopotan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni.

Tuntutan tersebut mereka sampaikan dalam aksi di depan Kantor Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah, Semarang Selatan, Jumat sore, 16 Oktober 2026.

Koordinator aksi, Muhammad Asmi Pratama, mengatakan, penetapan status bencana nasional menjadi salah satu tuntutan utama. Oleh karena karhutla berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan hingga aktivitas ekonomi dan pendidikan.

“Kami membawa tuntutan. Yaitu untuk menetapkan yang pertama karhutla ini sebagai bencana dengan status nasional,” ucapnya.

BACA JUGA: Karhutla Mengintai di Randublatung Blora, Perhutani Ingatkan Warga Tak Bersihkan Lahan dengan Membakar

Menurutnya, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Pemerintah juga harus menelusuri penyebab kebakaran dan menindak pihak-pihak yang sengaja membakar hutan untuk membuka lahan. Termasuk investor yang diduga melakukan aktivitas ilegal.

Asmi mendesak Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta dinas kehutanan terkait memperketat pengawasan dan menjatuhkan sanksi terhadap pelanggar.

“Kita menginginkan dari Gakkum maupun Dinas Kehutanan menindak tegas para investor-investor ilegal yang menggunakan cara singkat, dengan biaya murah. Membakar hutan untuk membuka lahan,” tegasnya.

Mahasiswa Desak Evaluasi Menteri Kehutanan dan Transparansi HGU

Selain penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, mahasiswa meminta pemerintah mengevaluasi tanggung jawab pejabat yang menangani persoalan kehutanan. Asmi secara khusus mendesak pencopotan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni karena menilai langkah pencegahan kebakaran belum berjalan sebagaimana mestinya.

“Kita menuntut mencopot Raja Juli Antoni selaku Menteri Kehutanan karena tidak becus dalam menjalankan tugasnya. Tidak melakukan pencegahan sebelum terjadinya kebakaran hutan itu terjadi,” katanya.

Mahasiswa turut menyoroti pentingnya keterbukaan informasi mengenai Hak Guna Usaha (HGU), khususnya yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan.

BACA JUGA: Alih Fungsi Lahan Pertanian di Grobogan Tertinggi, Kontribusi Pangan Jawa Tengah Terancam Turun

Menurut mereka, akses terhadap informasi perizinan dapat membantu masyarakat mengawasi kegiatan perusahaan sekaligus mencegah kerusakan ekosistem.

“Gunanya transparansi HGU, kami bisa melakukan pengawasan bersama kepada masyarakat. Kami bisa melihat bahwa digunakannya lahan tersebut memang tidak merusak dari ekosistem yang ada di wilayah tersebut,” kata Asmi.

Kabut Asap Ganggu Kesehatan, Pendidikan, dan Ekonomi Warga

Dalam aksi tersebut, mahasiswa Unissula juga menyoroti dampak karhutla di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, Sumatra, Riau, Jambi, hingga Papua Selatan.

dia mengaku prihatin terhadap laporan gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan paparan asap. Termasuk infeksi dan gangguan pernapasan.

“Jujur sangat miris. Karena sudah jatuh beberapa korban juga yang rata-rata dominasinya oleh lansia dan balita di sana. Kena infeksi pernapasan, kemudian gangguan pernapasan lainnya. Terus akses pendidikan akhirnya juga terbatas di sana,” katanya.

BACA JUGA: Waduk Tempuran Menyusut, Petani Blora Manfaatkan Lahan Kering untuk Tanam Jagung hingga Cabai

Asmi mengatakan sejumlah mahasiswa asal Kalimantan berpotensi mengalami kesulitan membiayai kuliah. Karena orang tua mereka kehilangan kesempatan mencari nafkah akibat kondisi di daerah asal.

“Bagi kawan-kawan yang berasal asli dari Kalimantan, itu juga terdampak. Berapa memang dari orang tua mereka itu sulit untuk mencari nafkah akhirnya karena keterbatasan jarak pandang dan udaranya masih terkepung oleh asap,” ucap dia.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama mahasiswa, kelompok mahasiswa Unissula berencana menggalang dana untuk membantu rekan-rekan yang terdampak secara ekonomi akibat karhutla. Bantuan tersebut terutama ditujukan bagi mahasiswa asal Kalimantan dan wilayah lain yang mengalami dampak serupa.

“Mungkin nanti ke depan kita akan adakan penggalangan dana bagi kawan-kawan yang kuliah di Unissula, terutama yang asli dari Kalimantan atau daerah terdampak karhutla ini,” katanya. (*)

Editor: Diaz A Abidin

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp