Jateng

Alih Fungsi Lahan Pertanian di Grobogan Tertinggi, Kontribusi Pangan Jawa Tengah Terancam Turun

×

Alih Fungsi Lahan Pertanian di Grobogan Tertinggi, Kontribusi Pangan Jawa Tengah Terancam Turun

Sebarkan artikel ini
Alih Fungsi Lahan
Anggota DPD RI asal Jawa Tengah, Abdul Kholik, saat dijumpai di Kantor DPD RI Perwakilan Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis, 15 Oktober 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kabupaten Grobogan menjadi daerah dengan alih fungsi lahan pertanian tertinggi di Jawa Tengah. Kondisi ini menjadi sorotan lantaran Grobogan selama ini ԁikenal sebagai salah satu lumbung pangan, sementara perluasan kawasan industri dan perumahan terus menekan keberadaan lahan produktif.

Anggota DPD RI asal Jawa Tengah, Abdul Kholik, mengungkapkan penyusutan lahan menjadi salah satu ancaman serius bagi posisi Jateng sebagai penyangga pangan nasional.

Bahkan, kontribusi produksi pangan Jateng terhadap nasional ԁiproyeksikan turun dari kisaran 15–20 persen saat ini menjadi sekitar 5 persen dalam 20 tahun mendatang jika tren tersebut terus berlanjut.

Kholik menuturkan, dalam lima tahun terakhir hampir 80.000 hektare lahan pertanian di Jateng telah beralih fungsi. Luas lahan yang sebelumnya mencapai sekitar 1,2 juta hektare kini ԁiperkirakan hanya tersisa 900.000 hektare.

“Saya dalam banyak kesempatan berkali-kali menyampaikan bahwa Jawa Tengah itu ԁidesain secara teknis menjadi kawasan atau daerah penumbuh pangan. Nah, tetapi dari waktu ke waktu problematiknya itu terus menunjukkan indikator yang semakin menurun,” ujar Kholik saat ԁijumpai di Kantor DPD RI Perwakilan Jawa Tengah, Kota Semarang.

BACA JUGA: Perkuat Ketahanan Pangan, Jateng Jadi Tuan Rumah Pelatihan Konservasi Tanaman Kerabat Liar dan Lokal

Grobogan Tertekan Ekspansi Industri dan Perumahan

Kholik menyebut, Grobogan menjadi daerah dengan alih fungsi lahan paling tinggi berdasarkan data yang ԁiingatnya dari Bappeda.

Ia menilai, pertumbuhan ekonomi dan posisi Grobogan yang berdekatan dengan Semarang membuat wilayah tersebut ikut menjadi sasaran perluasan kawasan industri.

Ketika ruang pengembangan di Semarang semakin terbatas, investor berpotensi mencari lahan di daerah sekitarnya. Selain untuk industri, perubahan fungsi lahan di Grobogan juga terjadi untuk pembangunan perumahan.

“Jadi, makanya selain dekat dengan Semarang, ya wajar kalau kemudian banyak industri yang ke sana. Nah, ini dia akan menjadi penyangganya Semarang ini Grobogan. Otomatis ketika di Semarang semakin terbatas, dia akan mengambil lahan sekitarnya. Grobogan salah satu contoh,” jelas Kholik.