Perpaduan itu menggambarkan keragaman ekspresi budaya Nusantara yang memiliki simbol, filosofi, dan nilai kehidupan masing-masing.
Padepokan Ratu Niang Sakti juga memperkenalkan layanan ritual dan pendampingan spiritual yang tertuju bagi masyarakat sesuai kebutuhan serta keyakinan masing-masing.
Filosofi Jawa Jadi Pengingat untuk Menata Kehidupan
Selain tradisi spiritual Bali, filosofi Jawa menjadi bagian penting dari pesan yang dibawa Kanjeng Pangeran Noto Winasis.
Nama “noto” dalam pemaknaan bahasa Jawa berkaitan dengan tindakan menata atau mengatur, sedangkan “winasis” merujuk pada kecakapan, pengetahuan, dan kebijaksanaan.
Filosofi tersebut memiliki makna sebagai ajakan untuk menata kehidupan dengan ilmu, kejernihan pikiran, dan pertimbangan yang matang.
Dengan begitu, seseorang diharapkan mampu menghadapi persoalan tanpa mengabaikan tanggung jawab maupun kepentingan orang lain.
“Filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menata kehidupan dengan ilmu, kejernihan pikiran, serta pertimbangan yang matang dalam mengambil keputusan,” tuturnya.
Kanjeng Pangeran Noto Winasis telah menjalankan pengabdian sebagai abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta.
Peran tersebut lekat dengan nilai-nilai tradisi Jawa, seperti tata krama, kerendahan hati, penghormatan terhadap sesama, dan tanggung jawab atas setiap tindakan.
Dalam pandangan budaya Jawa, kebijaksanaan tidak hanya di ukur dari luasnya pengetahuan seseorang.
Sikap dalam berbicara, kemampuan mengendalikan diri, serta kesediaan menghormati orang lain juga menjadi bagian dari ukuran kebijaksanaan.
“Nilai-nilai inilah yang tetap relevan di tengah perubahan zaman, ketika masyaraka berhadapan pada berbagai pilihan dan tantangan kehidupan,” ungkapnya. (*)





