FeatureHeadline

Meneguk Kopi Arab dari Masjid Layur, Sensasi Pedas dan Hangat untuk Berbuka Puasa

×

Meneguk Kopi Arab dari Masjid Layur, Sensasi Pedas dan Hangat untuk Berbuka Puasa

Sebarkan artikel ini
kopi arab
Jamaah menikmati sajian Kopi Arab saat berbuka puasa di Masjid Layur, Kampung Melayu, Semarang, Sabtu 25 Maret 2023. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Selama ini kopi identik sebagai minuman penambah energi di pagi hari atau teman yang pas untuk menemani lembur. Minuman yang bagi banyak orang jadi penghilang kantuk ini menjadi favorit. Namun, bagaimana jika berbuka puasa dengan secangkir kopi?

Meneguk kopi saat berbuka puasa bukanlah hal yang asing bagi warga yang bermukim di sekitar Masjid Layur, Dadapsari, Semarang Utara. Masjid yang berdiri sejak 1802 silam dan berlokasi persis pinggir Sungai Berok ini memiliki minuman khas bernama Kopi Arab sebagai hidangan wajib untuk berbuka puasa.

BACA JUGA: Pemkot Semarang Kembangkan Potensi Wisata Kampung Melayu

Berbeda dengan kopi lainnya, kopi yang berasal dari saudagar-saudagar Yaman kala berdagang itu memiliki rasa otentik. Bagaimana tidak? Bubuk kopi yang bercampur dengan berbagai rempah seperti jahe, sereh, kapulaga, cengkeh, jerung wangi, kayu manis, dan pandan ini membuat Kopi Arab menjadi sedap dan unik.

Menelisik Sejarah Kopi Arab sampai Daratan Pantura

Nama Masjid Layur terkenal oleh khayalak ramai, tidak terkecuali pencinta sejarah Islam. Dibatasi oleh tembok dengan tinggi kurang lebih 5 meter yang dahulu berfungsi sebagai menara pengawas pantai pada Perang Kemerdekaan 1945-1949, maka tak heran jika masjid ini juga mendapat julukan Masjid Menara.

BACA JUGA: Revitalisasi Kampung Melayu Semarang Diharapkan Bisa Jadi Daya Tarik Kunjungan Wisata

Sejak tahun 1743, kampung sekitar masjid telah menjadi pemukiman orang Melayu. Lokasinya yang strategis membuat banyak pedagang luar kerap kali singgah. Termasuk pedagang Yaman yang kemudian membawa racikan Kopi Arab ke tanah ini. Tahun 1802, Masjid Layur ini berdiri seiring dengan berkembang pesatnya agama Islam dan saudagar Arab yang berdatangan.

Orang-orang Yaman yang bermukim di Kampung Melayu memiliki kebiasaan membuat kopi sembari menunggu adzan maghrib berkumandang. Inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Kopi Arab.

BACA JUGA: Revitalisasi Kampung Melayu Semarang Capai Progres 70 Persen

Mulanya, Kopi Arab menjadi sajian untuk acara keluarga maupun kegiatan penting lainnya. Seiring dengan perkembangannya, kopi ini hanya tersaji saat bulan Ramadhan saja sebagai menu khas berbuka puasa dari Masjid Layur.

“Hari ini Kopi Arab tetap dihidangkan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama,” ungkap H. Ali, salah satu tokoh masyarakat setempat saat mempersiapkan kudapan menjelang buka puasa di Masjid Layur, Sabtu 25 Maret 2023.

Tersaji Bersama 3 Biji Kurma 

Saat adzan akan berkumandang, jamaah datang berbondong-bondong memasuki bangunan masjid. Kopi Arab nampak tersaji bersama 3 biji kurma dan kudapan lainnya.

Salah satu warga Kampung Melayu sekaligus jamaah Masjid Layur, Rohad menuturkan bahwa kopi ini memiliki cita rasa yang tidak bisa ia jumpai pada kopi lainnya.

“Rasanya pedas, ketika minum badan langsung terasa hangat,” ungkapnya.

Berkhasiat Sehatkan Badan

Jika menilik komposisinya, tentu kopi ini memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan. Kandungan rempah-rempah pada Kopi Arab terbukti baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Meskipun begitu, kopi adalah minuman yang bersifat asam. Hendaknya seseorang dengan riwayat asam lambung mengisi perut terlebih dahulu dengan makanan lain sebelum menikmati hangatnya Kopi Arab ini.

BACA JUGA: Biji Kopi Asal Temanggung Jateng Tembus Pasar Ekspor ke Eropa dan Asia

Eksistensi Kopi Arab yang menjadi salah satu ikon dari Masjid Layur ini memang menarik minat banyak kalangan. Sesaat sebelum waktu maghrib tiba, kelompok yang tergabung dalam Walking Tour Susur Kampung Melayu juga nampak mengunjungi Masjid Layur ini.

Penggagas Walking Tour, Fauzan menuturkan bahwa Masjid Layur ini menjadi destinasi wajib dalam tur Susur Kampung Melayu ini.

“Masjid ini situs bersejarah, jadi kami saat melakukan walking tour selalu memasukkan masjid ini ke salah satu destinasi,” ujarnya. (*)

Editor: Ricky Fitriyanto

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp