Gaya Hidup

Mengenal Paguyuban Katun Ungu, Wadah Bagi Tuna Rungu Semarang Membatik

×

Mengenal Paguyuban Katun Ungu, Wadah Bagi Tuna Rungu Semarang Membatik

Sebarkan artikel ini
Salah satu anggota Paguyuban Katun Ungu
Salah satu anggota Paguyuban Katun Ungu memberikan gestur jempol saat mengajari masyarakat membatik. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ada yang berbeda dengan suasana Sanggar Batik Mutiara Hasta. Sebagian besar karyawan yang didominasi perempuan itu tampak fokus membatik. Sesekali mereka berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Hidup dengan keterbatasan tak lantas membuat seseorang berpangku tangan. Itulah moto yang dipegang oleh Rujiman Slamet, pemilik Sanggar Batik Mutiara Hasta.

Sejak tahun 2013, Slamet mengajak penyandang disabilitas tuna rungu untuk bergabung dengan sanggar miliknya. Saat itu, Slamet memang tengah menjadi mentor di Dinas Ketenagakerjaan Jawa Tengah.

Kebetulan, lima peserta tunu yang merupakan penyandang disabilitas tunga rungu menarik perhatiannya: Sejak saat itu, Slamet memutuskan untuk mengajak mereka bergabung dengan sanggar sekaligus membentuk Paguyuban Katun Ungu (Kasula Tuna Rungu).

“Katun Ungu memiliki filosofinya tersendiri. Di samping katun ungu itu adalah kain, tapi ada arti lain yaitu kawula tuna rungu. Jadi semua anggotanya memang disabilitas tuna rungu,” ungkap Slamet saat beritajateng.tv temui.

BACA JUGA: Peringati Hari Disabilitas Internasional, Siswa SLBN 1 Demak Gelar Seni Barongan

Sebagai Teman Dengar, sebutan seseorang yang tidak memiliki gangguan pendengaran, Slamet tentu menemui kendala saat berinteraksi dengan anggotanya. Apalagi membatik perlu koordinasi dan komunikasi dan secara langsung dan lugas.

Kendati demikian, Slamet tak pernah menyerah. Ia mencoba berbagai cara agar anggotanya mampu menerima instruksinya dengan baik. Mulai dari gerakan mulut sejelas mungkin, menggunakan tangan, hingga menulis di atas kertas.

“Awalnya ada kendala, cuma karena panggilan hati saya legowo. Kalau ada sedikit kesulitan saya pakai kertas, saya tanya saya tulis baru mereka bisa paham,” paparnya.

Produksi batik sendiri

Berkat ketelatenan itu, Slamet mampu membimbing para tuna tungu untuk bisa memproduksi batiknya sendiri. Baik batik tulis, batik cap, hingga batik kontemporer.

Untuk motifnya, kebanyakan adalah batik Semarangan yang berisi ikon-ikon Semarang khas. Uniknya, pada saat Covid-19, Slamet bahkan sempat membuat batik dengan motif virus Corona.

“Alhamdulillah dari tahun 2013 sudah bisa produksi sendiri, bisa menerima order terutama dari dinas-dinas gubernuran,” ucapnya.

Hingga saat ini, Paguyuban Katun Ungu memiliki 35 anggota. Sesuai namanya, semua anggota merupakan penyandang runa rungu atau Teman Tuli.

Dari jumlah itu, sekitar 10-15 anggota benar benar aktif berkecimpung di dunia batik. Sementara sisanya menjadikan batik sebagai hobi dan sambilan.

BACA JUGA: Cerita Menarik Juru Bicara Isyarat Debat Pilgub Jateng, Sempat Kesulitan Terjemahkan Istilah Politik

Slamet berharap, keberadaan Paguyuban Katun Ungu mampu membuka peluang bagi teman-teman disabilitas untuk juga memiliki

“Harapannya mereka bisa lebih eksis dan kita juga memberikan ruang orang-orang disabilitas untuk beraktivitas. Dan saya berharap pemerintah bisa turut memperhatikan para disabilitas seperti tuna daksa atau tuna grahita,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp